PONTIANAK INFORMASI – Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kalimantan Barat mendatangi Kantor PT PLN (Persero) UP3 Pontianak, Selasa (7/7), untuk meminta kepastian terkait percepatan pemulihan pasokan listrik yang masih mengalami gangguan di sejumlah wilayah.
Dalam pertemuan itu, Wakil Ketua I Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Alex Sandra Djaoeng, meminta PLN segera melakukan pembenahan menyeluruh setelah terjadinya blackout yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut Alex, selain mempercepat pemulihan sistem kelistrikan, PLN juga perlu memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak.
“Ini satu-satunya BUMN yang menyediakan tenaga listrik kepada masyarakat. Kami berharap ada kompensasi, misalnya berupa voucher atau bentuk bantuan lainnya bagi pelanggan yang terdampak,” katanya.
Alex juga menyoroti minimnya informasi resmi selama proses pemadaman berlangsung. Ia menilai banyaknya jadwal pemadaman yang beredar di media sosial justru membuat masyarakat kebingungan.
“Ke depan informasi pemadaman harus disampaikan langsung oleh manajemen atau Humas PLN. Jangan sampai masyarakat menerima informasi yang simpang siur sehingga tidak siap saat listrik tiba-tiba padam,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak, Hendry Pangestu Lim. Ia berharap target pemulihan sistem kelistrikan yang disampaikan PLN dapat terealisasi pada 11 Juli 2026.
“Tadi Bu GM menyampaikan tanggal 11 Juli akan normal kembali. Mudah-mudahan jangan meleset. Kalau meleset, kami siap mengajak masyarakat datang dan menginap di kantor PLN,” katanya.
Hendry juga mengingatkan agar PLN memenuhi kewajiban memberikan kompensasi kepada pelanggan sesuai ketentuan yang berlaku apabila terjadi pemadaman dalam durasi tertentu.
Ia mengaku turut mengalami kerugian akibat blackout. Sebanyak sembilan ekor ikan arwana miliknya mati dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp90 juta. Selain itu, keluarganya yang memiliki bayi berusia tiga hari terpaksa mengungsi ke hotel selama dua malam karena listrik padam.
“Belum lagi keluarga kami yang memiliki bayi berusia tiga hari terpaksa mengungsi ke hotel selama dua malam karena kondisi listrik padam. Masyarakat benar-benar merasakan dampaknya,” ungkapnya.
Melalui pertemuan tersebut, lintas ormas berharap PLN dapat memenuhi target pemulihan kelistrikan pada 11 Juli 2026 sekaligus meningkatkan transparansi informasi kepada masyarakat selama proses penanganan gangguan berlangsung.
