PONTIANAK INFORMASI – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menyebabkan kerugian bagi para pelaku usaha dan penghobi.
Salah satunya dialami Hendry Pangestu Lim, warga Kota Pontianak, yang mengaku kehilangan sembilan ekor ikan arwana akibat listrik padam.
Hendry mengatakan seluruh ikan tersebut mati karena sistem pendukung akuarium berhenti berfungsi saat terjadi pemadaman listrik.
“Sembilan ekor arwana mati. Kami sudah menyiapkan kuasa hukum untuk melayangkan surat kepada PLN. Mudah-mudahan ada kompensasi juga,” kata Hendry usai mengikuti pertemuan dengan manajemen PLN UID Kalbar bersama lintas organisasi masyarakat (ormas) di Pontianak, Selasa (7/7).
Ia memperkirakan nilai kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp90 juta. Menurutnya, satu ekor arwana yang mati bernilai sekitar Rp10 juta.
“Kerugiannya satu ekor sekitar Rp10 juta,” ujarnya.
Tak hanya itu, Hendry juga menceritakan keluarganya harus mengungsi ke hotel karena memiliki cucu yang baru berusia tiga hari. Menurutnya, bayi tersebut tidak memungkinkan bertahan di rumah tanpa aliran listrik.
“Belum lagi cucu saya baru tiga hari lahir. Karena pemadaman kami harus mengungsi dan menginap di hotel dari Jumat sampai Sabtu. Bayangkan bayi tiga hari tentu tidak tahan dengan kondisi panas,” katanya.
Hendry mengaku kecewa karena masyarakat tidak memperoleh informasi yang memadai mengenai penyebab maupun durasi pemadaman listrik.
“Alasan listrik padam itu tidak jelas. Hanya PLN yang tahu. Kami sebagai masyarakat hanya merasakan dampaknya,” ucapnya.
Ia mendesak PLN memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak pemadaman sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kompensasi sudah saya sampaikan. PLN harus memberikan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak pemadaman sesuai aturan. Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan bersama teman-teman bisa direalisasikan,” tutup Hendry.
