Warisan Budaya Dunia Dari Papua, Menjadi Bagian Google Noodle! Begini Alasannya

0
26

Sumber Gambar: https://www.cnnindonesia.com/

Google Noodle pada hari ini (4/12) menampilkan ilustrasi noken Papua. Ada yang tahu mengapa Google memilih noken Papua bagian dari Google Doodle? Dilansir dari CNNIndonesia bahwa perihal tersebut merupakan rangka merayakan hari pengakuan tas tradisional masyarakat Papua tersebut sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2012 silam.

Search Engine Google

Noken yang terbuat dari serat kayu, daun, atau batang anggrek kemudian dibuat dengan cara dianyam atau di dirajut ini merupakan tas tradisional masyarakat Papua dan bagi masyarakat Papua juga tas ini memiliki nilai yang diajarkan oleh nenek moyang masyarakat Papua lintas generasi.

Kemendikbud menyebut, di Papua, kemahiran seorang perempuan merajut noken dianggap sebagai tanda kedewasaan.

Dalam sebuah diskusi yang digelar pada November 2019, ketua Yayasan Noken Papua, Titus Christoforus Pekei menyebut awalnya noken merupakan benda yang kerap dipandang remeh.

“Kita harus kembali mendalami ilmu noken ini. Noken mengajarkan kita tentang berbagi, demokrasi, dan kebenaran,” kata Titus kala itu, mengutip laman Kemendikbud.

Berbagai nilai terkandung dalam noken Papua ini lah, yang kemudian kerajinan tangan masyarakat tersebut diajukan untuk menjadi warisan budaya ke Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya atau UNESCO.

Pengajuan tersebut pun disetujui pada 4 Desember 2012 dan noken ditetapkan sebagai warisan budaya dunia takbenda oleh UNESCO di Paris, Prancis, bersama dengan sejumlah warisan budaya lainnya dari Kyrgyzstan, Uganda, dan Bostwana.

Noken tergolong kategori “in Need of Urgent Safeguarding” atau warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak oleh UNESCO.

Noken adalah jaring rajutan atau tas anyaman buatan tangan dari serat kayu atau daun oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat, Indonesia,” tulis UNESCO dalam pengumuman penetapan.

“Digunakan untuk membawa hasil bumi, tangkapan, kayu bakar, bayi, atau binatang kecil, serta untuk berbelanja dan menyimpan barang-barang di rumah, noken juga bisa dikenakan atau diberikan sebagai persembahan perdamaian,” lanjut UNESCO.

“Namun, jumlah orang yang membuat dan menggunakan Noken berkurang dalam menghadapi persaingan dari tas buatan pabrik dan masalah dalam memperoleh bahan baku.” tulis UNESCO.

Disisi lain, banyak berbagai faktor yang mengancam kelestarian noken Papua, sehingga Titus berharap museum noken di Jayapura segera terwujud. Museum tersebut bertujuan agar bisa menjadi tempat belajar masyarakat terkait noken, terutama bagi generasi muda.

Bukan hanya itu, Titus juga berharap agar noken ini bisa menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah Papua.

Reference (CNNIndonesia / Noken Papua, Warisan Budaya Dunia dengan Makna Mendalam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here