Skip to content
Pontianak Informasi

Pontianak Informasi

Barometer Informasi Seputar Pontianak

Primary Menu
  • Home
  • Lokal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sports
  • Kesehatan
  • Home
  • News
  • Kasus Campak di Kalbar Melonjak, Mayoritas Pasien Belum Imunisasi
  • Lokal
  • News

Kasus Campak di Kalbar Melonjak, Mayoritas Pasien Belum Imunisasi

Editor PI 06/09/2025
IMG_0539

PIFA, Lokal – Kasus campak di Kalimantan Barat tengah meningkat tajam. Dokter Spesialis Anak RSUD Soedarso Pontianak, Budi Nugroho mengungkapkan sepanjang Agustus 2025, tercatat 37 anak harus dirawat karena terinfeksi campak.

“Bulan Agustus yang dirawat disini ada sekitar 37 pasien. Itu yang dirawat saja. Masih ada beberapa (anak) yang nggak dirawat kalau campaknya nggak berat, itu tidak dirawat,” sebut Budi saat ditemui di Gedung Rawat Inap RSUD Soedarso, Selasa (2/9/25).

Budi mengatakan peningkatan kasus campak ini dimulai sejak Juli 2025. Bahkan disebutnya baru memasuki awal September 2025, sudag ada 4 pasien yang dirawat.

“Jadi memang ini ada peningkatan dan ini belum ada tanda-tanda menurun. Untuk bulan ini (september) baru tanggal dua sudah ada empat pasien,” ungkapnya.

Tren peningkatan kasus ini, disebut Budi mirip dengan kondisi tahun 2002. Ia mengatakan rendahnya cakupan imunisasi menjadi pemicu terjadinya lonjakan kasus campak di Kalbar.

“Dulu saya sempat kumpulkan data, 90 persen pasien campak tidak diimunisasi. Sekarang juga sama. Semua yang kena campak ini tidak ada imunisasi campak. Ada yang memang tidak mau, ada yang jadwalnya pas anak sakit. Sekitar 10 persen sudah diimunisasi tapi tidak lengkap,” jelasnya.

Budi menjelaskan imunisasi campak idealnya dilakukan dalam tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 6 tahun. Jika salah satu tahapan terlewat, risiko anak terpapar campak menjadi lebih besar.

“Dia (anak) 9 bulan imunisasi, (usia) 18 bulan nggak imunisasi, akhirnya mau 2-3 tahun kena campak. Dia yang 6 tahun nggak diimunisasi, akhirnya 9-10 tahun kena campak,” jelasnya.

Budi menegaskan bahwa campak merupakan penyakit menular yang dapat sembuh dalam dua minggu. Namun komplikasi yang menyertainya bisa berbahaya, mulai dari pneumonia, diare berat, dehidrasi, hingga radang otak (ensefalitis).

“Yang bahaya itu justru komplikasi. Kalau sampai sesak nafas karena pneumonia atau terjadi ensefalitis, itu berisiko tinggi. Walau jarang, tetap harus diwaspadai,” ujarnya.

RSUD Soedarso saat ini menyiapkan ruang isolasi khusus campak dengan kapasitas enam tempat tidur. Namun, lonjakan pasien membuat ketersediaan tempat kerap terbatas.

Budi juga mengingatkan bahwa anak yang telat imunisasi tetap bisa menyusul, bahkan hingga usia sekolah dasar.

“Kalau umur 9 bulan belum diimunisasi, tetap bisa di puskesmas atau posyandu. Kalau anak sudah pernah kena campak, setelah sembuh juga tetap boleh imunisasi untuk memperkuat imunitas,” katanya.

Ia menyoroti masih adanya orang tua yang menolak vaksin akibat terpengaruh hoaks di media sosial. Hal inilah yang menurutnya memperparah peningkatan kasus campak maupun penyakit menular lainnya, seperti pertusis (batuk rejan).

“Sekarang banyak orang tua ragu imunisasi karena termakan berita yang tidak benar. Padahal kalau imunisasi lengkap, biasanya anak tidak akan kena. Kami harap masyarakat bisa kembali percaya dan melengkapi imunisasi anak-anaknya,” tutup Budi.

Tags: Campak Campak di Kalbar Kasus Campak

Continue Reading

Previous: Ketua DPRD Kalbar Akan Antar Langsung Aspirasi Mahasiswa ke DPR RI
Next: Pelabuhan Kijing Sudah Rampung, Siap Dongkrak DBH dan Ekspor Hasil Bumi

Related Stories

IMG_6716
  • Lokal
  • News

BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Ria Norsan Pastikan Layanan ke Masyarakat Tak Berkurang

Editor PI 12/06/2026
IMG_7662
  • Lokal
  • News

Ini Alasan Warga Kalbar Masih Pilih Berobat ke Malaysia Dibanding RS Daerah

Editor PI 12/06/2026
a5c66829-3dd5-4496-8a77-d996ee31fd11
  • Lokal
  • News

Rumah Warga Pontianak Timur yang Miring Dirobohkan, Pemkot Siapkan Program Bedah Rumah

Editor PI 12/06/2026

Berita Terbaru

  • BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Ria Norsan Pastikan Layanan ke Masyarakat Tak Berkurang 12/06/2026
  • Ini Alasan Warga Kalbar Masih Pilih Berobat ke Malaysia Dibanding RS Daerah 12/06/2026
  • Rumah Warga Pontianak Timur yang Miring Dirobohkan, Pemkot Siapkan Program Bedah Rumah 12/06/2026
  • Edukasi Pupuk Hayati, UNTAN Dukung Program Adiwiyata di SDIT Darul Ihsan Pontianak 12/06/2026
  • Bupati Sujiwo Dukung Peringatan Tahun Baru Islam 1448 H yang Akan Digelar Majelis Al-Muwasholah 12/06/2026
  • Renovasi Pendopo Gubernur Kalbar dari Tahun 2025-2026 Capai Rp10,26 Miliar, Ini Penjelasan Ria Norsan 11/06/2026

Pemkot

Categories

Baca Berita Lainnya

IMG_6716
  • Lokal
  • News

BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Ria Norsan Pastikan Layanan ke Masyarakat Tak Berkurang

Editor PI 12/06/2026
IMG_7662
  • Lokal
  • News

Ini Alasan Warga Kalbar Masih Pilih Berobat ke Malaysia Dibanding RS Daerah

Editor PI 12/06/2026
a5c66829-3dd5-4496-8a77-d996ee31fd11
  • Lokal
  • News

Rumah Warga Pontianak Timur yang Miring Dirobohkan, Pemkot Siapkan Program Bedah Rumah

Editor PI 12/06/2026
IMG_7659
  • Lokal
  • News

Edukasi Pupuk Hayati, UNTAN Dukung Program Adiwiyata di SDIT Darul Ihsan Pontianak

Editor PI 12/06/2026

Pontianak Informasi merupakan barometer informasi seputar Kota Pontianak yang berdiri sejak tahun 2005. Pontianak Informasi akrab dikenal oleh masyarakat Kota Pontianak dengan sebutan PI. Kanal informasi ini juga bagian dari PIFA MEDIA NETWORK.

  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Presiden Prabowo Instruksikan Pengaktifan Kembali Pengecer Gas LPG 3 Kg
  • Tentang PI
  • Kontak dan Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • PIFA Media Network
  • Tentang PI
  • Kontak dan Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • PIFA Media Network
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.