PONTIANAK INFORMASI – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan buka suara terkait anggaran renovasi Pendopo Gubernur Kalbar yang mencapai lebih dari Rp10,26 miliar sepanjang tahun 2025 hingga 2026.
Norsan mengatakan anggaran tersebut dialokasikan selama dua tahun dan sebagian besar digunakan untuk memperbaiki bangunan mess di kompleks Pendopo Gubernur yang kondisinya rusak parah akibat banjir dan sudah lama tidak difungsikan.
“Baik saya jelaskan. Itu kan dua tahun, Rp10 miliar. Sekarang wartawan boleh lihat langsung kondisi mess itu. Dari luar memang terlihat bagus, tetapi di dalam sudah tidak bisa ditempati. Setelah banjir kemarin tidak pernah diperbaiki lagi, sehingga berantakan dan akhirnya dijadikan gudang,” kata Norsan saat ditemui, Kamis (11/6/26).
Ia menjelaskan, terdapat sekitar 15 kamar di bangunan mess tersebut dipenuhi barang-barang bekas dan tidak layak digunakan. Karena itu, pemerintah provinsi memutuskan melakukan renovasi agar fasilitas tersebut dapat kembali dimanfaatkan.
“Saya tidak mau bangunan yang masih bisa difungsikan dibiarkan rusak. Kita perbaiki supaya bisa ditempati lagi. Kalau ada kegiatan di pendopo, tamu atau peserta kegiatan bisa menginap di mess itu. Sayang kalau dibiarkan terbengkalai,” ujarnya.
Norsan juga menanggapi kritik yang mengaitkan renovasi pendopo dengan masih banyaknya ruas jalan yang rusak di Kalbar. Menurutnya, perbaikan fasilitas pendopo juga merupakan bagian dari pelayanan kepada masyarakat karena saat ini pendopo telah dibuka untuk berbagai kegiatan publik.
“Jalan rusak itu memang sudah lama. Tetapi ini juga fasilitas untuk masyarakat. Sekarang pendopo sudah dibuka untuk masyarakat. Bahkan kadang konsumsi kegiatan pun kami bantu. Jadi mess ini kita benahi agar bisa digunakan kembali,” katanya.
Ia menilai nilai anggaran Rp10,26 miliar masih dalam batas wajar karena tidak hanya mencakup renovasi mess, tetapi juga sejumlah pekerjaan perbaikan lainnya di kawasan pendopo.
Norsan pun mengaku heran karena renovasi pendopo pada masa pemerintahan sebelumnya dengan nilai anggaran yang lebih besar tidak menimbulkan polemik serupa.
“Dulu pernah ada anggaran mess hampir Rp60 miliar, tidak ribut. Sekarang Rp10 miliar malah ramai. Mungkin ada banyak faktor yang membuat ini menjadi perhatian,” pungkasnya.
