Foto : Ilustrasi
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Seorang wartawan media Warta Kota bernama Munir menjadi korban penganiayaan saat meliput dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Insiden ini terjadi saat ia hendak menindaklanjuti kasus keracunan yang dialami 20 siswa SDN 01 Gedong. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut dan berjanji akan melakukan klarifikasi terkait kejadian itu. Dadan juga menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang wartawan untuk meliput program MBG, asalkan mengikuti prosedur terkait aspek higienis, seperti menggunakan alat pelindung diri dan menyampaikan izin terlebih dahulu sebelum meliput.
Munir menceritakan awal kejadian bermula ketika ia bersama rekannya memasuki SPPG Gedong 2 untuk mencari konfirmasi atas dugaan keracunan tersebut. Ia sempat dianggap tukang cuci oleh petugas di lokasi dan kemudian diminta keluar. “Setelah penjaga ini tahu kami wartawan, penjaga itu dengan nada sedikit agak marah meminta kami keluar,” ungkap Munir dalam wawancara dengan Tribunnews.
Setelah keluar dari area SPPG, Munir dan rekannya sempat mengambil gambar petugas yang mengusir mereka, namun saat hendak melanjutkan peliputan ke lokasi lain, tiba-tiba Munir dicekik oleh seorang petugas keamanan yang marah. “Tiba-tiba bapak yang tadi sudah kepalkan tangannya mau pukul saya, terus tiba-tiba malah cekik saya dan Kiki,” kata Munir yang dilansir dari CNN Indonesia.
Kejadian kekerasan ini mendapatkan kecaman dari berbagai organisasi pers, termasuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, yang menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius terhadap kebebasan pers. AJI Jakarta mengutuk keras tindakan kekerasan ini dan mendesak adanya perlindungan lebih bagi wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik.
Munir sendiri sudah melaporkan insiden ini ke Kepolisian Sektor Pasar Rebo dan telah menjalani pemeriksaan medis atau visum. Ia menyatakan kondisinya baik meski mengalami intimidasi. Kasus ini masih dalam proses penyelidikan pihak berwajib untuk memastikan tindakan yang diambil terhadap pelaku.
