PONTIANAK INFORMASI – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi mulai berdampak pada transportasi air di Kalimantan Barat. Sejumlah kapal kelotok rute Teluk Batang–Rasau Jaya terpaksa berhenti beroperasi karena kesulitan mendapatkan pasokan solar.
Kondisi tersebut membuat aktivitas di dermaga menjadi sepi dan mengganggu mobilitas masyarakat yang selama ini bergantung pada jalur sungai sebagai akses transportasi utama.
Ketua DPD Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan, Agus Tianto, mengatakan kelangkaan solar subsidi menjadi pukulan berat bagi operasional angkutan sungai rakyat.
“Sulitnya mendapatkan BBM solar subsidi membuat operasional kapal terganggu. Bahkan ada beberapa armada yang untuk sementara memilih tidak beroperasi karena keterbatasan bahan bakar,” kata Agus, Sabtu (17/5).
Menurutnya, para pemilik kapal kini kesulitan menutupi biaya operasional sekaligus mencari stok solar di pasaran. Akibatnya, jadwal keberangkatan kapal yang biasanya rutin menjadi tidak menentu.
Jalur sungai Teluk Batang–Rasau Jaya sendiri selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi logistik dan kebutuhan masyarakat pesisir di Kalimantan Barat.
Terhentinya operasional kapal dikhawatirkan berdampak pada distribusi barang dan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di sejumlah wilayah yang bergantung pada transportasi sungai.
Menyikapi kondisi tersebut, DPD GAPASDAP Kalbar meminta pemerintah pusat maupun daerah segera mengambil langkah cepat untuk memastikan ketersediaan solar subsidi bagi angkutan sungai rakyat.
Selain itu, mereka juga meminta pengawasan distribusi BBM subsidi diperketat agar penyalurannya tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh sektor lain.
Hingga kini, para operator kapal masih menunggu kepastian pasokan BBM agar armada mereka dapat kembali beroperasi melayani masyarakat.
