PONTIANAK INFORMASI – Di usia 57 tahun, Ani tak pernah membayangkan rumah yang menemaninya selama puluhan tahun akan runtuh begitu saja di hadapannya.
Senin siang, 6 Juli 2026, perempuan yang tinggal di Jalan Yuka Gang Alpokat Indah Jalur V, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat itu baru saja selesai memasak. Tubuhnya lelah, ia lalu duduk beristirahat di dalam rumah kayu sederhana yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
“Saya habis masak sekitar jam dua siang. Selesai masak saya duduk karena capek. Tiba-tiba ada bunyi ‘gresek-gresek’, saya kira anak-anak lagi main layangan. Rupanya rumah saya mau roboh. Langsung bruk… ambruk ke bawah,” ungkap Ani saat ditemui di sebuah rumah kecil tempat ia tinggal sementara, Rabu (9/7/26).
Ani masih mengingat jelas detik-detik rumahnya longsor ke tepi sungai. Saat itu ia bahkan masih duduk di dalam rumah dan sempat merasa heran karena suasana mendadak menjadi redup.
“Saya merasa kenapa rumah saya redup. Pas saya lihat, ternyata bawah rumah sudah ambruk, padahal saya masih duduk di dalam,” katanya.
Beruntung air sungai belum pasang. Warga sekitar segera berdatangan membantu menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diambil.
“Hari itu warga bantu ambil barang sedikit-sedikit. Air sudah mulai pasang, jadi besoknya baru lanjut lagi ambil barang yang masih bisa diselamatkan,” sebutnya.
Bagi Ani, rumah itu bukan sekadar bangunan. Di tempat itulah ia membangun keluarga, membesarkan anak, dan menjalani hari-hari hingga kini hidup seorang diri.
“Saya tinggal di sini dari masih hutan, belum ada jembatan seperti sekarang. Dari masih sama suami sampai sekarang sendiri,” kenangnya.
Ia bercerita, suaminya telah berpisah dengannya sekitar 21 tahun lalu. Anak semata wayangnya pun telah meninggal dunia.
“Kalau anak saya masih ada mungkin sekarang saya sudah punya menantu, sudah punya cucu. Tapi Allah punya kehendak,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Untuk bertahan hidup, Ani mengandalkan pekerjaan serabutan membantu teman-temannya.
“Kalau ada teman minta bantuan ya saya bantu. Yang penting bisa makan. Rumah sendiri, enggak ngontrak, ada listrik, itu saja sudah cukup buat saya,” ujarnya.
Musibah yang terjadi ini bukanlah kali pertama dirasakan Ani. Enam tahun lalu, rumah yang sama pernah diterjang angin puting beliung. Kala itu air naik hingga setinggi leher. Kini, rumah itu kembali hancur, kali ini karena bagian bawah bangunan tak lagi mampu menahan beban.
“Tidak ada angin, tidak ada hujan. Yang ambruk itu bagian bawah rumah. Kayunya sudah kecil-kecil, tiangnya juga jarang, jadi mungkin sudah tidak kuat,” ujarnya.
Meski kehilangan tempat tinggal, Ani masih bersyukur dirinya selamat. “Alhamdulillah badan saya selamat, tidak kurang satu apa pun,” sebutnya.
Kini Ani tinggal sementara di rumah kosong milik seorang pengusaha ikan yang mempersilahkannya menumpang.
“Beliau bilang saya boleh tinggal di sini dulu. Karena saya sudah enggak punya rumah, saya disuruh tinggal di sini.”
Ia mengaku telah menerima bantuan dari pemerintah berupa kasur, kompor, pakaian dan kebutuhan pokok. Namun saat disarankan pindah ke rumah susun, Ani memilih menolak.
“Saya enggak mau ke rumah susun. Bukan apa-apa, saya sudah terbiasa tinggal di sini. Saya maunya tetap di sini.”
Harapan Ani sederhana. Ia ingin kembali memiliki rumah kecil di tempat yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun.
“Saya cuma minta sehat, panjang umur. Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu rumah bedah, walaupun kecil yang penting kuat. Saya maunya tetap di sini. Dari zaman hutan sampai sekarang jadi kota, hidup saya ya di sini,” ujarnya
Meski kehilangan tempat tinggal, Ani masih bersyukur karena tidak sendiri menghadapi musibah. Uluran tangan para tetangga membuatnya tetap memiliki harapan untuk bangkit.
“Insya Allah selalu ada yang menolong. Namanya juga bertetangga, suka duka ya kita jalani bersama,” harap Ani.
