PONTIANAK INFORMASI – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kota Pontianak dan sekitarnya sejak Kamis (2/7) tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memaksa pelaku usaha mengeluarkan biaya tambahan demi menjaga operasional tetap berjalan.
Salah satunya dialami Sam Coffee yang berlokasi di Jalan Major Alianyang Nomor 7-8, Pontianak. Selama listrik padam berjam-jam, kafe tersebut harus mengandalkan genset yang menghabiskan sekitar 18 hingga 20 liter bensin dalam sehari.
Owner Sam Coffee, Samuel, mengatakan listrik mulai padam pada 3 Juli sekitar pukul 13.00 WIB dan baru kembali menyala sekitar pukul 22.00 WIB.
“Kurang lebih mati lebih dari enam jam. Selama itu genset kami harus hidup terus dan sampai dua kali kehabisan bensin,” kata Samuel.
Awalnya, ia mengira pemadaman hanya berlangsung singkat seperti biasanya sehingga hanya menyiapkan bensin yang tersisa di tangki dan jeriken. Namun, karena listrik tak kunjung menyala, ia harus bolak-balik membeli bensin ke SPBU untuk menjaga operasional kafe tetap berjalan.
“Pertama habis bensin yang ada di tangki. Saya isi lagi sekitar 10 liter, ternyata habis juga sore hari. Akhirnya beli lagi Pertamax untuk isi genset. Untung SPBU dekat,” ujarnya.
Meski harus mengeluarkan biaya operasional tambahan, Samuel mengaku ada sisi positif yang tak disangka. Selama listrik padam, kafenya justru dipadati pengunjung.
Banyak warga datang untuk mengisi daya telepon genggam, memanfaatkan akses internet, bekerja, hingga sekadar mencari tempat yang masih memiliki aliran listrik.
“Omzet naik signifikan, hampir dua kali lipat dari hari biasa. Saya pertama kali lihat tanpa ada event, semua meja penuh. Sampai meja cadangan dan meja di dapur ikut dipakai karena pengunjung terus berdatangan,” katanya.
Menurut Samuel, kondisi itu membuat seluruh karyawan kewalahan melayani pelanggan.
“Memang suara genset cukup berisik, tapi orang-orang tetap datang. Mereka santai di sini sambil ngecas, kerja, atau nongkrong,” ujarnya.
Di balik meningkatnya omzet, Samuel mengaku pemadaman berkepanjangan tetap menjadi persoalan serius bagi pelaku usaha.
Ia menilai kondisi tersebut membuat operasional menjadi tidak efisien karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar sekaligus menguras tenaga.
“Jujur, mati lampu bikin kami pusing. Biasanya kalau listrik padam cuma sebentar, genset tinggal dinyalakan lalu selesai. Tapi kalau sampai enam jam lebih, owner juga harus turun tangan karena banyak hal di luar perkiraan,” tuturnya.
Samuel bersyukur genset milik kafenya masih dalam kondisi baru sehingga mampu bekerja optimal. Namun, ia membayangkan beban yang harus ditanggung pelaku usaha lain yang tidak memiliki genset atau menggunakan genset yang sudah tua.
“Saya masih beruntung punya genset yang bagus. Bagaimana dengan usaha lain yang gensetnya rusak atau bahkan tidak punya genset sama sekali? Pasti lebih berat,” katanya.
Ia berharap PLN dapat segera menyelesaikan persoalan yang menyebabkan pemadaman berkepanjangan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Kami berharap PLN memperbaiki apa yang menjadi penyebabnya. Mati lampu mungkin bisa dimaklumi kalau sebentar, tapi jangan sampai berjam-jam seperti ini karena sangat mengganggu aktivitas dan operasional usaha,” pungkasnya.
