Screenshot
PONTIANAK INFORMASI – Pemilik pangkalan LPG subsidi 3 kilogram di Jalan Tanjung Raya II, Pontianak, David, meminta Pertamina dan pemerintah lebih gencar mensosialisasikan mekanisme penyaluran LPG subsidi kepada masyarakat.
Menurutnya, minimnya pemahaman masyarakat kerap membuat pangkalan menjadi pihak yang disalahkan ketika terjadi kelangkaan maupun pembatasan distribusi.
“Kami pangkalan ini sering disalahkan, kenapa tidak didistribusikan atau kenapa tidak diberikan. Padahal yang kami perlukan itu data yang jelas dan kuota yang diberikan Pertamina juga sudah ada datanya,” kata David, Kamis (16/7/26)
Ia menjelaskan, pangkalan hanya menyalurkan LPG sesuai kuota yang telah ditetapkan. Di pangkalannya, distribusi dilakukan dua kali dalam sepekan dengan masing-masing pengiriman sebanyak 160 tabung.
“Satu kali pengantaran 160 tabung, dalam seminggu dua kali pengantaran,” ujarnya.
Menurut David, tantangan terbesar bukan pada distribusi, melainkan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai sistem penyaluran LPG subsidi.
“Kesulitannya itu sosialisasi ke masyarakat. Kalau masyarakat sudah paham, semuanya aman,” katanya.
Ia menjelaskan, pembelian LPG subsidi hanya diperuntukkan bagi rumah tangga yang datanya telah terdaftar. Masyarakat dapat membeli dengan membawa KTP yang sudah tercatat dalam sistem MyPertamina atau didaftarkan melalui pangkalan.
“Yang bisa membeli itu rumah tangga yang datanya sudah terdaftar. Kalau UMKM tidak bisa melalui mekanisme ini. Kami hanya menyalurkan sesuai daftar rumah tangga yang ada,” jelasnya.
David menambahkan, sistem juga membatasi jumlah pembelian sehingga satu konsumen tidak bisa membeli LPG subsidi dalam jumlah besar.
“Di aplikasi memang sudah ada batasannya. Tidak bisa membeli banyak karena semuanya termonitor, baik oleh agen maupun melalui sistem,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap Pertamina bersama pemerintah lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat terkait mekanisme penyaluran, kuota, dan pendataan penerima LPG subsidi.
“Alangkah baiknya Pertamina dan pemerintah menyosialisasikan ke masyarakat bahwa semua sudah ada datanya dan ada kuotanya, supaya tidak simpang siur,” tutup David.
