PONTIANAK INFORMASI – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas transportasi air di Pontianak, Kalimantan Barat. Kondisi tersebut membuat awak kapal harus meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berlayar pada malam hari.
Sejumlah kapal angkutan barang di pelabuhan Seng Hie, Pontianak bahkan mengurangi kecepatan untuk mengantisipasi kecelakaan akibat jarak pandang yang terbatas.
Aran, awak kapal pengangkut sembako, mengatakan kabut asap cukup mengganggu jarak pandang, khususnya pada malam hari.
“Kalau pagi tidak terlalu, kecuali malam. Kalau siang masih nampak. Kalau malam itu cukup mengganggu. Walaupun begitu kita tetap berlayar, cuma mengurangi kecepatan,” kata Aran, saat ditemui Jumat (21/8/26)
Hal serupa juga disampaikan Umar, awak kapal KM Bapake. Ia menyebut jarak pandang saat siang hari masih sekitar 50 hingga 100 meter. Namun, kondisi pada malam hari lebih mengkhawatirkan.
“Jarak pandang 100 meter masih kelihatan. Mengganggu itu malam. Kami berangkat dari jam 9-10 pagi,” ujarnya.
Umar mengatakan KM Bapake melayani rute dari Pontianak menuju Telok Batang dan Seponti dengan membawa barang kebutuhan pokok. Dalam kondisi kabut asap, pihaknya tetap berlayar, tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah.
“Kalau keadaan begini masih kelihatan 100 meter, 50 meter kalau siang. Kalau malam kita tidak menjamin, jadinya memperlambat kecepatan,” katanya.
Menurutnya, perjalanan menuju tujuan dapat memakan waktu hingga 24 jam. Karena itu, kondisi jarak pandang menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan awak kapal selama perjalanan.
“Kalau dibilang mengganggu tidak juga, cuma agak waspada,” pungkasnya.
