PONTIANAK INFORMASI – Mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) mengajak anak-anak di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, mengenali resiko bencana di lingkungan sekitar melalui fotografi.
Kegiatan berupa workshop dan riset mitigasi bencana berbasis Photovoice ini melibatkan delapan anak dan digelar pada 2 Agustus 2026 di Kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kubu Raya. Kegiatan tersebut diselenggarakan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Ilmu Komunikasi FISIP UNTAN bersama Forum Anak Kecamatan Sungai Raya dan DP3AKB Kabupaten Kubu Raya.
Melalui pendekatan photovoice, anak-anak dibekali pengetahuan dasar fotografi menggunakan smartphone. Mereka kemudian mengamati lingkungan, menentukan objek yang dianggap penting, mengambil foto, serta menjelaskan persoalan atau pesan yang ingin disampaikan melalui foto tersebut.

Ketua Tim PKM-RSH Sorot Lentera, Yakhin Palipuk, mengatakan pendekatan ini digunakan untuk memberikan ruang kepada anak dalam menyampaikan pandangan mereka mengenai lingkungan dan kebencanaan.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya diberi tahu tentang apa itu bencana dan bagaimana cara menghadapinya. Kami juga ingin melihat bagaimana mereka sendiri memandang lingkungan mereka, apa yang mereka anggap sebagai persoalan, dan apa yang ingin mereka sampaikan melalui foto,” ujar Yakhin.
Menurut tim peneliti, keterlibatan anak menjadi penting karena Kubu Raya menghadapi sejumlah risiko bencana, termasuk banjir serta kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya pun dirasakan langsung dalam aktivitas sehari-hari.
Salah satu peserta, Micha, mengungkapkan kabut asap tebal pernah membuat proses belajar harus dilakukan secara daring.
“Kalau kabut asapnya tebal, belajar jadi daring atau online. Terlalu banyak waktu buat belajar di rumah, sedangkan belajar di rumah enggak sekonsentrasi waktu di sekolah,” jelas Micha.
Foto dan cerita yang dihasilkan para peserta selanjutnya digunakan dalam pemetaan visual untuk melihat bagaimana anak-anak mengenali lingkungan dan risiko bencana berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Tim berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan untuk mengembangkan edukasi mitigasi bencana yang lebih komunikatif, partisipatif, dan sesuai dengan pengalaman anak.
