Foto: IDN Times
PONTIANAK INFORMASI, Sports – FIFA resmi menjatuhkan sanksi berat kepada mantan manajer Timnas Indonesia, Sumardji, terkait insiden tindakan agresif terhadap wasit Ma Ning dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 kontra Irak pada 11 Oktober 2025. Komite Disiplin FIFA menyatakan Sumardji melanggar Pasal 14 ayat (1) huruf (l) Kode Disiplin FIFA karena melakukan penyerangan terhadap ofisial pertandingan, sehingga ia dinyatakan bersalah atas tindakan kekerasan terhadap wasit.
Menurut dokumen resmi yang dipublikasikan di situs FIFA dan dilansir oleh CNN Indonesia, Sumardji dijatuhi larangan mendampingi Timnas Indonesia selama 20 pertandingan serta denda sebesar 15.000 franc Swiss atau sekitar Rp324 juta. Dalam surat putusan, disebutkan bahwa “l) setidaknya 15 pertandingan atau jangka waktu yang sesuai untuk menyerang petugas pertandingan, termasuk menyikut, meninju, menendang, menggigit, meludah, atau memukul,” sehingga sanksi 20 laga dianggap sesuai ketentuan FIFA.
Proses disiplin dimulai empat hari setelah kejadian, yakni 15 Oktober 2025, ketika Sekretaris Komite Disiplin FIFA membuka proses dengan potensi pelanggaran Kode Disiplin selama enam hari. Namun, selama masa proses itu, Sumardji tidak memberikan penjelasan apa pun kepada AFC, sehingga dalam putusan FIFA disebut bahwa ia dianggap mengakui semua tuduhan yang dituduhkan. Sidang Komite Disiplin FIFA yang dipimpin Jorge Palacio, Alejandro Jose Piera, dan Paola Lopez Barraza digelar pada 18 November 2025, dan putusan disampaikan kepada Sumardji pada 19 November 2025.
FIFA juga menegaskan bahwa denda sebesar 15.000 franc Swiss wajib dibayarkan dalam waktu 30 hari sejak keputusan diberitahukan. Jika tenggat waktu tidak dipenuhi atau terjadi pelanggaran lanjutan, Komite Disiplin FIFA berhak menjatuhkan sanksi tambahan. Sanksi ini berlaku secara internasional dan mengikat semua anggota asosiasi sepak bola di bawah FIFA, sehingga Sumardji tidak boleh terlibat dalam aktivitas resmi Timnas Indonesia selama masa hukuman.
Sumardji bersama PSSI sempat mengajukan banding atas keputusan Komite Disiplin FIFA, tetapi permohonan tersebut ditolak dan seluruh hukuman dipertahankan. Dalam pernyataannya yang dilansir Bola.com, Sumardji menyatakan kekecewaan terhadap sanksi yang dianggapnya “tidak masuk akal” dan terlalu berat dibandingkan dengan insiden yang terjadi. Ia juga menilai bahwa kejadian tersebut seharusnya bisa diselesaikan secara internal tanpa harus berujung pada sanksi internasional yang sangat ketat.
Insiden ini menimbulkan sorotan luas di ranah sepak bola Indonesia, karena Sumardji menjabat sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI sekaligus manajer Timnas Indonesia pada saat kejadian. Banyak pihak menilai bahwa sanksi FIFA menjadi pelajaran penting bagi seluruh elemen tim nasional agar menjaga disiplin dan menghormati ofisial pertandingan, terutama di level internasional.
