Tuntutan Patrick (Foto : KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU)
PONTIANAK INFORMASI, Sports – Tuntutan publik agar Patrick Kluivert mundur dari kursi pelatih Tim Nasional Indonesia kian menguat menyusul kegagalan Garuda melaju ke babak selanjutnya Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Kekalahan beruntun dari Arab Saudi (3-2) dan Irak (1-0) pada putaran keempat yang digelar di Stadion King Abdullah Sports City Jeddah, 9 dan 12 Oktober dini hari WIB lalu, menjadi pemicu utama. Timnas Indonesia dipastikan tidak mampu menjadi runner-up Grup B untuk bertarung di putaran kelima, yang sekaligus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia 2026.
Meski mantan striker Ajax Amsterdam dan Barcelona itu masih terikat kontrak hingga tahun 2027, desakan agar PSSI mengambil sikap tegas terus menggema. Kegagalan ini memicu pengamat sepak bola untuk angkat bicara mengenai nasib Kluivert dan kriteria pelatih pengganti yang ideal. Dilansir dari Bola.com, pengamat sepak bola nasional, Gusnul Yakin, menyarankan agar PSSI berpikir masak dalam memilih arsitek baru jika tuntutan mundur tersebut dipenuhi, “Jika Cari Pengganti, Dipikir Masak agar Tak Lagi Bikin Dada Sesak.”
Gusnul Yakin menilai, meski tuntutan publik menguat, PSSI memiliki tantangan tersendiri dalam mencari pengganti Kluivert. Berdasarkan Mou (Memorandum of Understanding) yang telah dibuat PSSI dengan KNVB (Federasi Sepak Bola Belanda), logikanya pengganti Patrick Kluivert juga harus berasal dari Belanda. Namun, ia menekankan agar PSSI tidak salah lagi dalam memilih. Gusnul menyatakan, “Negara itu punya banyak pelatih bagus, tapi PSSI jangan salah lagi memilih pelatih baru.”
Lebih lanjut, Gusnul Yakin menyebut beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh calon pelatih baru. Kriteria pertama adalah pengalaman melatih yang mumpuni. Selain itu, ia juga menyoroti aspek kedekatan emosional. Ia mencontohkan Giovanni van Bronckhorst yang memiliki darah keturunan Ambon. Gusnul mengatakan, “Kriteria pertama jelas pengalaman melatihnya. Kedua Van Bronckhorst punya darah keturunan Ambon, seperti Simon Tahamata. Jadi saya kira kedekatan emosional ini juga bisa berpengaruh untuk Timnas Indonesia nanti.” Syarat lainnya, calon pelatih harus memahami karakter sepak bola Asia.
Aspek krusial lain yang disoroti adalah pondasi karakter tim yang telah dibangun oleh pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong. Gusnul menilai, program yang sudah berjalan di era STY harus dilanjutkan. Dilansir dari Bola.com, mantan pelatih Arema ini menambahkan, “Program Shin Tae-yong harus dilanjutkan. Buktinya Patrick Kluivert gagal mengubah karakter Timnas Indonesia ala Eropa. Jadi nanti pelatih baru yang adaptasi dengan Timnas Indonesia. Bukan sebaliknya.”
Menanggapi polemik ini, Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji menyatakan bahwa nasib Patrick Kluivert akan ditentukan dalam Rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Sumardji, yang mendampingi tim sejak putaran pertama kualifikasi hingga saat ini, berjanji akan menyampaikan evaluasi secara transparan. Sumardji menegaskan, “Saya tidak akan tutup-tutupi mana yang baik, mana yang tidak baik. Semua akan saya sampaikan apa adanya.” Ia juga meminta agar anggota Exco PSSI berani mengambil sikap tegas.
Saat ini, PSSI berada dalam posisi dilematis. Kontrak Kluivert baru berakhir pada 2027, yang berarti PSSI harus menyiapkan dana kompensasi jika memutuskan untuk memutus kontraknya. Terlepas dari siapa yang akan menukangi Timnas Indonesia berikutnya, PSSI dituntut untuk tidak hanya fokus pada pergantian pelatih, tetapi juga menata ulang sistem dan konsep kompetisi di dalam negeri sebagai fondasi utama lahirnya talenta-talenta nasional.
