Foto: Anadolu
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan ambisinya untuk menguasai Greenland, wilayah otonom milik Denmark, yang berpotensi mengguncang tatanan global. Pernyataan tegasnya ini memicu kekhawatiran luas di Eropa dan dunia internasional, karena dianggap menantang norma kedaulatan negara. Keinginan Trump ini bukan hal baru, mengingat ia pernah mengusulkannya pada 2019, tapi kini semakin kencang pasca-pelantikannya kembali.
Dalam pidato di Gedung Putih pada Jumat, 9 Januari 2026, Trump menyatakan, “Greenland whether they like it or not because if we don’t do it, Russia or China will take over Greenland and we’re not going to have Russia or China as a neighbor”. Ia menekankan bahwa Greenland krusial untuk keamanan nasional AS, terutama menghadapi aktivitas Rusia dan China di Arktik. Pernyataan ini disampaikan usai serangan militer AS di Venezuela, menunjukkan pola agresif kebijakan luar negerinya.
Pakar internasional menilai langkah ini berpotensi merusak hukum internasional. Nur Rachmat Yuliantoro dari UGM menyebut, “Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat tersebut merupakan bentuk tantangan terbuka terhadap kedaulatan negara dan penentuan nasib sendiri,” dilansir dari ugm.ac.id. Menurutnya, kebijakan Trump mencerminkan ekspansionisme transaksional yang menguji batas diplomatik dan menggeser norma global. Hal ini juga memicu reaksi keras dari Uni Eropa dan NATO, yang khawatir hubungan trans-Atlantik terganggu.
Greenland memiliki nilai strategis tinggi karena posisinya di Celah GIUK, yang menghubungkan Arktik ke Atlantik, serta sumber daya mineral langka yang terbuka akibat pencairan es. Trump mengklaim wilayah itu “dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China,” sehingga AS harus bertindak cepat, dilansir dari CNBC Indonesia. Obsesi ini juga didorong perubahan iklim yang membuka rute pelayaran baru, menguntungkan ekonomi dan militer AS.
Kekhawatiran Eropa semakin memuncak, termasuk di Polandia. Profesor Wojciech Nowiak dari Universitas Adam Mickiewicz menyebut pernyataan Trump mengancam kedaulatan dan mengguncang tatanan dunia. Denmark menolak keras, dengan Menteri Luar Negeri Ruby Melfort menyatakan pembelian Greenland selalu jadi niat Trump sejak awal. Reaksi ini menunjukkan potensi konflik dengan sekutu tradisional AS.
Dampaknya bisa meluas ke disintegrasi NATO secara politik dan melemahnya legitimasi tatanan berbasis aturan. Pakar UGM memperingatkan bahwa jika Trump berhasil, norma internasional akan tergantikan oleh kekuatan material dan pemaksaan. Rusia dan China justru bisa memanfaatkan kegaduhan ini untuk memperkuat pengaruh di Arktik. Stabilitas global berisiko tinggi, dengan risiko eskalasi militer di wilayah kutub.
