Foto: X/@Osint613
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Demonstrasi anti-pemerintah di Iran yang telah berlangsung lebih dari dua minggu kini semakin tak terkendali, dengan korban jiwa mencapai ratusan orang di berbagai provinsi. Pemerintah mengumumkan tiga hari berkabung nasional atas “martir” yang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan, sementara aksi protes justru menyebar ke 31 provinsi. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam intervensi militer.
Menurut laporan dari CNN, setidaknya 512 demonstran termasuk sembilan anak-anak tewas akibat kekerasan selama demonstrasi. “Situasi kini berada di bawah kendali total,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dilansir dari Reuters, sambil menyalahkan AS atas kerusuhan tersebut. Sementara itu, Center for Human Rights in Iran (CHRI) melaporkan adanya “pembantaian” selama pemadaman internet, dengan ratusan korban di Teheran saja.
Protes yang dipicu oleh sanksi ekonomi AS dan inflasi parah dimulai dari pemilik toko, lalu diikuti mahasiswa yang menyerukan anti-pemerintah. Video-video menunjukkan kerumunan meneriakkan slogan dukungan bagi demonstran dan menentang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Rezim menuduh Israel dan AS sebagai dalang di balik kekacauan ini.
Pada 12 Januari 2026, demonstrasi pro-pemerintah digelar di berbagai kota seperti Teheran, Mashhad, dan Tabriz, dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian yang berjabat tangan dengan massa. Peserta meneriakkan “Mati Amerika!” dan “Mati Israel!” sambil mengibarkan bendera nasional, menurut Liputan6. Otoritas klaim ini menunjukkan kekuatan teokrasi Iran.
Korban tewas termasuk wasit sepak bola dan mahasiswa, menurut BBC, dengan total lebih dari 544 jiwa berdasarkan data Human Rights Activists News Agency. Lebih dari 10.600 orang ditangkap, dan jaksa Teheran ancam hukuman mati bagi pengacau. Ayatollah Khamenei tegas, “Republik Islam tidak akan mundur dari perusuh yang ingin menyenangkan Trump.”
AS merespons keras; Trump bilang Iran “ingin bernegosiasi” setelah peringatannya agar “jangan mulai menembak.” Menteri Luar Negeri Oman, mediator lama, kunjungi Teheran, sementara parlemen Iran sebut AS dan Israel “target sah” jika campur tangan. Situasi tetap tegang dengan jalanan Teheran sepi akibat takut represi.
Demonstrasi ini jadi tantangan terbesar bagi rezim sejak lama, dengan pemadaman internet memperburuk isolasi informasi. Meski pemerintah klaim terkendali, laporan independen tunjukkan kekerasan berlanjut. Komunitas internasional pantau ketat, khawatir eskalasi regional di Timur Tengah.
