Foto: mothership.sg
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Surat terbuka yang beredar di media Singapura menyuarakan duka mendalam atas tewasnya Sheyna Lashira Smaradiani, bocah perempuan berusia enam tahun asal Jakarta yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas saat sedang berlibur bersama keluarganya di negeri itu. Dalam surat itu, penulis menyampaikan pesan haru: “Kamu seharusnya aman. Kamu seharusnya masih memiliki banyak hari esok. Kepergianmu akan selalu terasa, namun kenanganmu akan tetap hidup.” Surat tersebut dilansir oleh situs parenting theAsianparent.
Kecelakaan maut itu terjadi pada Jumat (6/2/2026) di kawasan Chinatown, tepatnya di area parkir samping Kuil Relik Gigi Buddha di South Bridge Road. Sheyna dan ibunya, Raisha Anindra Pascasiswi, sedang berjalan kaki saat sebuah mobil yang dikemudikan perempuan berusia 38 tahun keluar dari parkiran dan diduga salah arah sehingga menabrak keduanya. Pengemudi kini telah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan mengemudi tanpa kehati‑hatian yang menyebabkan kematian, dan kasusnya masih dalam proses penyelidikan kepolisian Singapura.
Sheyna mengalami luka serius dan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Singapura, namun nyawanya tak tertolong dan ia mengembuskan napas terakhir di rumah sakit. Sementara sang ibu, Raisha, selamat namun menderita luka‑luka dan masih menjalani perawatan intensif, sehingga belum dapat segera dipulangkan ke Indonesia. Keluarga besar di Jakarta pun harus menerima kenyataan pahit kehilangan bocah yang dikenal sebagai “peri kecil” dalam lingkup terdekatnya.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura menyatakan akan terus memberikan pendampingan hingga tuntas kepada keluarga WNI yang menjadi korban insiden tersebut. Plt. Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, menegaskan bahwa KBRI berkoordinasi erat dengan kepolisian setempat untuk memantau perkembangan hukum yang melibatkan pengemudi kendaraan tersebut. Pihak KBRI juga membantu proses pemulangan jenazah Sheyna ke Tanah Air, yang kemudian dimakamkan di Jakarta.
Surat terbuka untuk Sheyna yang viral di Singapura menegaskan bahwa “kesedihan orang tua tak akan pernah benar‑benar berakhir. Hati kami di Singapura tertuju pada keluarga muda ini.” Kalimat itu dikutip langsung dari artikel TribunTrends.com yang merangkum surat dari situs theAsianparent. Ungkapan tersebut menggambarkan empati masyarakat Singapura terhadap keluarga korban, sekaligus menyoroti betapa tragisnya kehilangan seorang anak di usia yang sangat dini.
Media Singapura dan Indonesia sama‑sama menyorot peristiwa ini sebagai pengingat pentingnya keselamatan pejalan kaki, terutama di area wisata yang ramai pengunjung. Kasus Sheyna menggugah diskusi publik tentang perlindungan anak, disiplin berkendara, dan kebutuhan penataan kembali area parkir serta rambu lalu lintas di sekitar objek wisata. Banyak warganet yang turut menyampaikan belasungkawa dan mendoakan agar keluarga korban diberi kekuatan menghadapi musibah ini.
Bagi keluarga dan kerabat Sheyna, surat dari Singapura menjadi simbol bahwa duka mereka tak sendiri; ada banyak hati di negeri tetangga yang turut merasakan kehilangan. Pesan “Kamu seharusnya aman” seakan menjadi renungan kolektif: bahwa setiap anak berhak tumbuh dengan rasa aman, tanpa harus menghadapi risiko kecelakaan di tengah momen kebersamaan keluarga.
