Foto: Humas Pemprov Jateng
PONTIANAK INFORMASI, Jateng – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melakukan kunjungan mendadak ke dua lokasi bencana di lereng Gunung Slamet, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Purbalingga, setelah ramai menjadi sorotan warganet. Kedatangan Luthfi dilakukan pada Jumat (30/1) untuk memastikan penanganan darurat dan pemulihan pasca banjir bandang serta longsor berjalan optimal.
Kabupaten Pemalang Luthfi meninjau Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, yang terdampak banjir bandang dan longsor. “Hari ini kami turun langsung untuk memastikan penanganan masyarakat terdampak benar‑benar clear dan paripurna,” ujar Luthfi seusai peninjauan. Kunjungan berlanjut ke Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, yang juga dilanda bencana serupa.
Berdasarkan data sementara di Kecamatan Pulosari, bencana menyebabkan 813 kepala keluarga atau sekitar 2.777 jiwa harus mengungsi. Selain itu, sekitar 80 rumah mengalami kerusakan, 78 bidang lahan pertanian terdampak, dan belasan jembatan rusak akibat terjangan banjir bandang dan longsor. Luthfi menegaskan bahwa seluruh warga terdampak harus didata secara rinci, mulai dari nama, alamat, kerusakan rumah, kehilangan barang berharga, hingga lahan pertanian dan ternak.
Gubernur menekankan bahwa pendataan tersebut menjadi dasar penyaluran bantuan dan langkah pemulihan jangka menengah. “Penanganan bencana tidak boleh setengah‑setengah dan harus menyasar kebutuhan mendasar warga hingga pemulihan ekonomi,” kata Luthfi. Ia juga menyampaikan bahwa lahan pertanian yang tergenang banjir akan diajukan klaim asuransi untuk meringankan beban petani terdampak.
Di Kabupaten Purbalingga, pemerintah setempat berencana merelokasi ratusan rumah warga ke lokasi yang lebih aman. Pemkab tengah menyiapkan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak, dengan koordinasi intensif bersama Pemprov Jateng. Luthfi meminta percepatan proses relokasi agar warga tidak terlalu lama tinggal di tempat penampungan darurat.
Kedatangan Luthfi di lereng Gunung Slamet menuai berbagai respons di media sosial. Sebelumnya, warganet menyoroti minimnya kunjungan pejabat ke lokasi bencana, sehingga kehadiran gubernur dinilai sebagai respons langsung terhadap kritik publik. Namun, sejumlah netizen juga mengingatkan agar langkah‑langkah konkret seperti relokasi, pemulihan infrastruktur, dan perlindungan lingkungan tidak berhenti hanya pada kunjungan simbolis.
Luthfi menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan terus memantau kondisi di lereng Gunung Slamet, termasuk aspek mitigasi bencana dan penghentian aktivitas eksploitasi alam yang berpotensi memperparah risiko longsor dan banjir. “Gunung Slamet sedang dalam proses menjadi kawasan taman nasional, maka tidak boleh ada penambangan,” tegasnya dalam kesempatan terpisah. Dengan pendekatan data‑based dan keterlibatan aktif masyarakat, pihaknya berharap bencana serupa dapat diminimalisasi di masa mendatang.
