PONTIANAK INFORMASI – Di setiap gerbang atau pintu masuk lokasi upacara adat Dayak, kerap terlihat rumbai-rumbai halus dari bambu yang tertancap rapi. Itulah pabayo, penanda sakral yang menandai tengah berlangsungnya ritual adat atau pesta gawai.
Bagi masyarakat Dayak, khususnya sub-suku Kanayatn dan Salako di Kalimantan Barat, pabayo bukan sekadar hiasan. Ia menjadi simbol penting yang wajib ada dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari naik dango, pesta gawai, hingga ritual membuka lahan atau membangun rumah.
Felixsianus, warga Dayak di Pontianak Timur, menyebut bahwa keberadaan pabayo tidak bisa dipisahkan dari setiap prosesi adat. “Kalau ada acara seperti naik dango atau gawai, pabayo itu wajib ada,” ujarnya
Proses pembuatannya pun tidak sembarangan. Bambu yang digunakan harus diraut tipis hingga membentuk rumbai yang indah dan berlapis. Meski terlihat sederhana, meraut pabayo membutuhkan keterampilan khusus dan ketelatenan tinggi.
“Kelihatannya mudah, tapi saat kita coba buat sendiri tidak semudah yang dibayangkan. Saya saja sudah bertahun-tahun belajar, hasilnya belum sempurna,” kata Felixsianus.
Ia menjelaskan, kualitas pabayo sangat dipengaruhi kondisi bambu. Bambu yang masih basah akan menghasilkan bentuk berbeda dibandingkan yang sudah kering. Selain itu, bagian kulit luar bambu harus dibersihkan dengan baik agar rautan tidak mudah putus dan menghasilkan gelombang yang rapi.
Dalam tradisi Dayak, pabayo juga memiliki tingkatan yang menunjukkan skala acara. Untuk pesta besar seperti gawai, pabayo bisa memiliki hingga tujuh tingkat rautan. Sementara untuk kegiatan sederhana seperti membuka lahan, cukup dua atau tiga tingkat.
Sebelum proses meraut dimulai, terdapat pula ritual adat yang harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan guru yang mengajarkan keterampilan tersebut.
Lebih dari sekadar penanda visual, pabayo mengandung makna filosofis mendalam. Ia melambangkan kesuburan, kesejahteraan, serta penghormatan kepada leluhur. Dalam kepercayaan masyarakat Dayak Salako, warna hijau pada pabayo mencerminkan kehidupan dan keberlangsungan ritual, sementara warna merah dipercaya mampu menolak aura negatif.
Namun di tengah modernisasi, keberadaan perajin pabayo kini semakin berkurang. Generasi muda dinilai mulai jarang mempelajari keterampilan ini, padahal pabayo tetap menjadi elemen penting dalam setiap ritual adat.
Untuk menjaga tradisi tersebut, panitia perayaan naik dango kini mulai mengadakan lomba meraut pabayo. Harapannya, kegiatan ini dapat menarik minat generasi muda untuk kembali mengenal dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Di balik rumbai bambu yang sederhana, pabayo menyimpan nilai seni, filosofi, dan identitas budaya yang tak ternilai bagi masyarakat Dayak.
