PONTIANAK INFORMASI- Pemerintah Kota Pontianak mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena El Nino dan musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, meminta seluruh jajaran terkait memperkuat langkah mitigasi guna mengantisipasi kekeringan, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal itu disampaikan Edi usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah serta Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino bersama Menteri Dalam Negeri, Senin (29/6).
Menurut Edi, informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah antisipasi.
“Ini khusus untuk mengantisipasi El Nino, kemarau, dan kondisi cuaca,” kata Edi.
Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang dan lebih kering dari kondisi normal, seiring potensi munculnya fenomena El Nino.
Edi mengatakan, dampak El Nino tidak hanya memicu cuaca panas, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian akibat kekeringan hingga menyebabkan gagal panen.
“Perubahan cuaca yang tidak menentu ini bisa menyebabkan gagal panen, kemudian bencana alam. Kalau musim kemarau, pasti panas, dan panas bisa memicu kebakaran lahan,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkot Pontianak mulai meningkatkan pengawasan di wilayah yang masih memiliki lahan gambut. Sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar juga akan diperkuat memasuki musim kemarau.
Edi meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan posko siaga sekaligus meningkatkan patroli rutin di wilayah yang dinilai rawan terjadi kebakaran lahan.
“Saya minta posko tim BPBD melakukan patroli, terutama di Kecamatan Pontianak Tenggara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Utara yang masih ada lahan gambut,” katanya.
Ia menegaskan, langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini agar potensi kebakaran lahan dapat dicegah sebelum meluas.
Selain itu, Edi mengajak masyarakat ikut berperan menjaga lingkungan dengan tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran.
“Tim BPBD sudah siap. Yang penting mitigasi dilakukan dari sekarang,” tutupnya.
