PONTIANAK INFORMASI – Kalimantan Barat mencatat babak baru dalam sektor perdagangan internasional. Untuk pertama kalinya, ekspor peti kemas dilakukan langsung melalui Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Senin (29/6).
Ekspor perdana itu dilepas langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan. Menurutnya, beroperasinya Terminal Kijing sebagai pelabuhan ekspor internasional akan memangkas rantai distribusi sekaligus meningkatkan daya saing produk asal Kalbar di pasar global.
“Selama ini sebagian besar komoditas ekspor Kalbar masih harus dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi. Dengan beroperasinya Terminal Kijing sebagai pintu ekspor langsung, rantai logistik menjadi lebih singkat, biaya distribusi lebih efisien, dan daya saing produk daerah semakin meningkat,” kata Norsan.
Ia menilai kehadiran Terminal Kijing menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Kalimantan Barat sebagai salah satu gerbang perdagangan internasional di Indonesia bagian barat.
Norsan berharap operasional pelabuhan tersebut tidak hanya memperlancar arus ekspor, tetapi juga mampu menarik investasi baru, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Terminal Kijing harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat. Ketika biaya logistik semakin rendah, investasi akan tumbuh, lapangan kerja bertambah, dan manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengajak Pelindo, Bea Cukai, Karantina, Imigrasi, operator pelayaran, serta pelaku usaha untuk terus memperkuat kolaborasi agar Terminal Kijing berkembang menjadi pusat logistik modern yang berdaya saing.
Pada kesempatan yang sama, CEO PT Pulau Laut Line, Welter Ong, mengatakan pihaknya melihat Terminal Kijing memiliki potensi besar untuk melayani pelayaran internasional. Menurutnya, fasilitas pelabuhan yang modern memungkinkan kapal-kapal berukuran besar bersandar dan melayani pengiriman peti kemas ke berbagai negara.
“Terminal Kijing dibangun untuk kapal yang lebih besar dan pelayaran internasional. Kami fokus pada kargo internasional dan layanan feeder,” katanya.
Welter optimistis semakin banyak perusahaan pelayaran internasional akan membuka layanan di Terminal Kijing seiring meningkatnya aktivitas ekspor dari Kalimantan Barat.
Pada ekspor perdana ini, total nilai komoditas yang dikirim mencapai USD 1.206.388,36 atau sekitar Rp21,49 miliar. Produk yang diekspor antara lain alumina, alumina hydroxide, kelapa parut kering (desiccated coconut), dan kelapa bulat dengan tujuan Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Malaysia, hingga Tiongkok.
Pengiriman dilakukan melalui dua skema, yakni direct call untuk rute langsung ke Pasir Gudang, Malaysia, serta transshipment yaitu melalui Pasir Gudang sebelum diteruskan ke negara tujuan lain di Asia.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berharap layanan ekspor langsung melalui Terminal Kijing dapat memangkas biaya logistik, mempercepat waktu pengiriman, sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah di pasar internasional.
