PONTIANAK INFORMASI – Harapan Indonesia untuk merebut gelar Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 harus kandas di partai final.
Ganda putra Indonesia Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Harapan Rindorindo harus puas menjadi runner-up setelah kalah dramatis dari wakil Chinese Taipei Chia Yen Lin/Lin Young Sheng di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Minggu (6/9/2026).
Bermain selama sekitar satu jam, Rambitan/Rindorindo harus melewati pertarungan tiga gim sebelum akhirnya menyerah dengan skor 21-11, 19-21, 20-22.
Meski gagal mengangkat trofi, perjuangan Rambitan/Rindorindo mendapat dukungan penuh dari ribuan penonton yang memadati GOR Terpadu Ahmad Yani.
Tribun arena yang berkapasitas sekitar 4.000 hingga 5.000 penonton tampak penuh. Gemuruh suporter terdengar hampir di setiap poin yang berhasil direbut pasangan Indonesia.
Atmosfer tersebut menjadi energi tambahan bagi Rambitan/Rindorindo yang menjadi satu-satunya wakil Merah Putih di partai final Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Rambitan/Rindorindo mengawali gim pertama dengan sangat baik. Mereka langsung unggul 3-0 sebelum Chia/Lin memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1.
Pasangan Indonesia terus menjaga keunggulan. Permainan menyerang yang dibangun Rambitan/Rindorindo membuat Chia/Lin kesulitan mengembangkan permainan.
Dari skor 7-4, Rambitan/Rindorindo terus memperlebar jarak menjadi 9-4, 10-5 hingga 11-5. Selepas interval, mereka masih mampu mempertahankan kendali pertandingan.
Rambitan/Rindorindo unggul 14-8 dan kemudian melesat hingga 18-9. Chia/Lin sempat mencuri dua poin, tetapi pasangan Indonesia segera merespons.
Rambitan/Rindorindo akhirnya menutup gim pertama dengan kemenangan meyakinkan 21-11.
Keunggulan tersebut membuat harapan Indonesia untuk mengamankan gelar semakin terbuka. Namun, situasi berubah pada gim kedua.
Chia/Lin mampu memberikan tekanan sejak awal dan membuat Rambitan/Rindorindo kesulitan mengembangkan permainan seperti pada gim pertama.
Pertandingan berlangsung ketat. Kedua pasangan silih berganti memimpin hingga skor 6-6. Chia/Lin kemudian mendapatkan momentum dan unggul 10-7 sebelum Rambitan/Rindorindo menyamakan kedudukan menjadi 11-11.
Pasangan Indonesia sempat berbalik unggul 14-13. Namun, Chia/Lin kembali mengambil kendali dan memperlebar jarak hingga 18-14.
Rambitan/Rindorindo tidak menyerah. Mereka memangkas ketertinggalan menjadi 18-19. Chia/Lin kemudian mendapatkan game point pada kedudukan 20-18.
Rambitan/Rindorindo kembali memperkecil jarak menjadi 19-20. Sayangnya, satu poin berikutnya menjadi milik Chinese Taipei. Gim kedua berakhir 21-19 untuk Chia/Lin dan pertandingan harus ditentukan melalui gim ketiga.
Gim penentuan berlangsung lebih menegangkan. Rambitan/Rindorindo sempat tertinggal 0-2, tetapi mampu mengejar hingga kedudukan 6-7. Chia/Lin kembali menjauh 10-7.
Dukungan ribuan penonton membuat Rambitan/Rindorindo terus berjuang. Mereka berhasil menyamakan kedudukan 10-10.
Namun, momentum kembali lepas. Chia/Lin perlahan menjauh hingga 15-11 dan 18-14.
Rambitan/Rindorindo kembali bangkit. Dari tertinggal 16-18, mereka memangkas jarak menjadi 17-18, kemudian 18-19.
Chia/Lin mendapatkan match point pada kedudukan 20-18. Tetapi Rambitan/Rindorindo menunjukkan mental juang luar biasa dengan menyamakan kedudukan menjadi 20-20.
Seluruh GOR Terpadu Ahmad Yani kembali bergemuruh. Sayangnya, dua poin terakhir menjadi milik Chia/Lin.
Chinese Taipei akhirnya menutup gim ketiga dengan skor 22-20 dan memastikan gelar juara. Rambitan/Rindorindo pun harus puas dengan posisi runner-up.
Patra Harapan Rindorindo mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pertandingan tanpa mengalami cedera, meski hasil akhir belum sesuai harapan.
“Puji Tuhan, kita bisa menyelesaikan pertandingan ini. Walaupun masih runner-up, tapi kita dijauhkan dari cedera,” kata Rindorindo.
Menurutnya, salah satu evaluasi dari pertandingan tersebut adalah ketenangan dan fokus, terutama ketika memasuki poin-poin akhir.
“Tadi permainan kita mungkin kurang ketenangan dan fokus saja. Di poin-poin akhir tadi sayang banget, harusnya kita bisa mengambil, cuma kita kecolongan di bagian servis,” ujarnya.
Rindorindo mengakui tekanan mental terasa semakin besar pada gim ketiga.
“Tegang pasti ada. Jadi, untuk berikutnya mungkin saya bakal lebih berbagi lagi, terutama untuk fokus dan mentalnya,” katanya.
Sementara itu, Yeremia Rambitan menilai pertandingan final berlangsung sengit karena kedua pasangan sama-sama tidak ingin memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengembangkan serangan.
Menurutnya, Chia/Lin terus memberikan tekanan dan jarang mengangkat bola. Rambitan/Rindorindo pun mencoba menerapkan permainan serupa.
“Mungkin mereka mainnya juga maksa, maksa banget. Kelihatan banget mereka selalu menekan terus, jarang mengangkat bola. Dan kita pun sama, kita ingin menyerang juga,” ujar Rambitan.
Kondisi tersebut membuat kedua pasangan terus beradu serangan.
“Jadi, mereka tidak mau menyerah, kita juga tidak mau menyerah. Akhirnya mainnya mungkin bisa sampai seseru dan seketat itu,” katanya.
Di balik kegagalan meraih gelar, Rambitan mengaku sangat terkesan dengan dukungan masyarakat Pontianak.
“Terima kasih sudah mendukung kita sampai di final. Full, ya. Kelihatan full banget, antusias banget, ramah banget. Kita pun merasa senang, merasa bangga banget bisa didukung supporter sebanyak ini di Pontianak. Terima kasih,” ucap Rambitan.
Menurutnya, atmosfer final terasa berbeda karena hampir seluruh arena memberikan dukungan kepada pasangan Indonesia.
“Yang pasti penonton lebih mendukung full kita. Jadi, satu stadion itu benar-benar bergemuruh, berisik banget. Itu membuat kita senang, bangga, dan juga tambah semangat,” katanya.
Hasil runner-up di Pontianak juga menjadi bahan evaluasi bagi Rambitan/Rindorindo. Keduanya telah menjalani rangkaian pertandingan selama dua pekan, termasuk tampil dalam dua turnamen yang digelar beruntun di Pontianak.
Rambitan menilai faktor stamina dan tenaga menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki.
“Mungkin kita evaluasi lagi, ya. Mungkin dari stamina. Kita kan sudah dua minggu dan juga sampai final,” katanya.
Menurutnya, pengalaman tersebut akan menjadi modal untuk mempersiapkan diri menghadapi turnamen berikutnya.
“Mungkin dari segi tenaga dan stamina kita pasti agak kurang. Mungkin untuk turnamen berikutnya kita lebih mempersiapkan stamina dan tenaga,” ujar Rambitan.
Meski gagal membawa pulang gelar juara, Rambitan/Rindorindo tetap meninggalkan kesan kuat di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Mereka menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bertahan hingga final dan mampu menghadirkan pertarungan sengit selama tiga gim di hadapan tribun GOR Terpadu Ahmad Yani yang penuh.
Trofi akhirnya menjadi milik Chia Yen Lin/Lin Young Sheng. Namun, dukungan luar biasa publik Pontianak menjadi salah satu cerita penting dari perjalanan Rambitan/Rindorindo di turnamen tersebut.
