PONTIANAK INFORMASI.CO, Lokal – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi memulai pembangunan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat, Jumat (6/2/2026). Proyek strategis ini menjadi bagian dari upaya percepatan hilirisasi bauksit dan penguatan industri aluminium nasional.
SGAR Fase 2 dibangun dengan nilai investasi mencapai Rp 14,8 triliun melalui kolaborasi antar-BUMN dan anak usaha MIND ID, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Proyek ini dioperasikan oleh perusahaan patungan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).
Fasilitas tersebut dirancang untuk memproduksi 1 juta ton alumina per tahun. Dengan tambahan kapasitas dari SGAR Fase 1 yang telah beroperasi, total produksi alumina di Mempawah ditargetkan mencapai 2 juta ton per tahun. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2028.
Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menyampaikan bahwa tambahan pasokan alumina dari SGAR Fase 2 sangat penting untuk memenuhi kebutuhan smelter aluminium kedua Inalum yang berkapasitas 600.000 ton per tahun. Saat ini, smelter aluminium Inalum di Kuala Tanjung, Sumatra Utara, memiliki kapasitas produksi sebesar 300.000 ton per tahun.
“Untuk aluminanya sendiri, dengan adanya SGAR 1 dan SGAR 2, kebutuhan kami itu sudah lebih dari cukup. Karena kita hanya butuh 1,8 (juta ton). Jadi masih ada sisa 200.000 lagi yang bisa kita ekspor,” ujar Melati.
Ia menegaskan, kehadiran SGAR Fase 2 akan mengakhiri ketergantungan Indonesia terhadap impor alumina maupun aluminium primer. “Dengan adanya project ini, kita tidak punya lagi ketergantungan terhadap alumina impor maupun aluminium impor,” tegasnya.
Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, Inalum juga menargetkan ekspor alumina ke pasar Asia seperti China, India, dan Malaysia, yang dinilai memiliki keunggulan dari sisi biaya logistik.
Proyek SGAR Mempawah Fase 2 juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan penerimaan negara. Inalum memperkirakan proyek ini berpotensi menciptakan lebih dari 65.000 lapangan kerja serta menyumbang pendapatan pajak sekitar Rp 6,6 triliun per tahun.
Proses groundbreaking SGAR Fase 2 dilakukan secara bersamaan dengan lima proyek hilirisasi lainnya secara daring. Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, melaporkan langsung pelaksanaan groundbreaking dari lokasi proyek kepada CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang meresmikan kegiatan tersebut dari Jakarta.
“Hari ini kita kumpul bukan hanya groundbreaking tapi momentum besar pembangunan nasional. Indonesia memilih sebagai bangsa berdaulat, bukan hanya pengekspor bahan mentah tapi produsen bernilai tambah melalui program hilirisasi,” kata Maroef.
