PONTIANAK INFORMASI – Rencana pembangunan Bandara Sukadana, di Desa Riam Berasap, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat mulai menunjukan progres.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, telah meninjau lokasi yang disiapkan oleh Pemkab Kayong Utara, seluas kurang lebih 189 hektare tersebut.
Peninjauan ini dilakukan untuk mempercepat proses pengusulan pembangunan ke pemerintah pusat, mengingat bandara tersebut dinilai strategis untuk memperkuat iklim investasi di Kayong Utara – Ketapang serta mendukung konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kita meninjaunya dulu, nanti kita usulkan ke pusat, ke Kementerian Perhubungan, untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.
Ia menegaskan kebutuhan bandara semakin mendesak mengingat banyaknya perusahaan tambang dan investor asing, terutama dari China seperti Harita Group dan WHW, yang beroperasi dan mempekerjakan ribuan karyawan di Ketapang dan Kayong Utara.
“Di Ketapang dan Kayong Utara ini banyak pengusaha tambang, investornya juga dari China. Misalnya WHW dan Harita Group, karyawannya sangat banyak,” jelasnya.
Menurutnya, dengan adanya bandara yang lebih besar, mobilitas karyawan dan investor yang rutin melakukan perjalanan bulanan maupun mingguan akan lebih cepat dan efisien.
Selain itu, ia berharap Bandara Sukadana menjadi infrastruktur pendukung bagi pengembangan IKN, yang saat ini tengah dibangun dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp72 triliun.
“Salah satunya juga untuk menopang IKN yang baru dibangun sekarang ini,” tambahnya.
Proses pembebasan lahan di Desa Riam Berasap dan Simpang Tiga juga menunjukkan perkembangan positif.
Meski sempat melalui jalur pengadilan terkait keberatan harga ganti rugi, Pemkab Kayong Utara optimistis pengadaan lahan rampung 100 persen dan segera disertifikatkan untuk dihibahkan kepada Kementerian Perhubungan.
Selain itu, Pemkab Kayong Utara juga tengah merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk menetapkan lokasi bandara sebagai kawasan transportasi.
