PONTIANAK INFORMASI – Festival Film Pelajar Kalimantan Barat (FFPK) kembali digelar dan memasuki tahun ketujuh. Tahun ini, festival mengangkat isu kecerdasan buatan (AI) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai tema yang dituangkan pelajar melalui karya film.
Pembina FFPK sekaligus Ketua P3I Kalimantan Barat, Zulfydar Zaidar Mochtar, mengatakan festival tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas, pola pikir, sekaligus kemampuan merencanakan dan mewujudkan ide menjadi sebuah karya.
“Kita memberikan ruang kepada mereka dengan memfasilitasi kemampuan untuk membuat film. Dulu, kegiatan ini diawali karena melihat banyaknya anak-anak yang bermain gim tanpa arah. Maka, kami menjadikan Festival Film Pelajar ini sebagai wadah untuk mengarahkan kreativitas mereka,” ungkapnya.
Zulfydar mengatakan, melalui film, mereka didorong untuk menghasilkan karya sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.
“Festival ini diharapkan menjadi sesuatu yang membuat mereka semakin cerdas. Kenapa cerdas? Karena sesuatu yang awalnya tidak ada bisa menjadi ada,” sebutnya.
Zulfydar menilai kemampuan tersebut penting sebagai bekal generasi muda menghadapi persaingan menuju bonus demografi 2045. Menurutnya, peserta tidak harus menjadi sutradara atau bekerja di industri film karena pengalaman membuat film juga melatih kemampuan berpikir, merencanakan, dan menyampaikan gagasan.
“Yang terpenting adalah mereka sudah memiliki kemampuan untuk berpikir, merencanakan sesuatu, dan menuangkannya dalam bentuk karya,” ujarnya.
Tahun ini, tema AI diangkat untuk melihat dilema sekaligus kreativitas anak-anak dalam menggunakan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara isu karhutla dipilih karena persoalan tersebut tengah dirasakan langsung masyarakat Kalimantan Barat. Para pelajar didorong menyampaikan pandangan dan kritik terhadap kondisi di lingkungan sekitar melalui film.
“Mereka bisa menyampaikan pandangan, baik terhadap DPRD maupun pemerintah. Hal-hal kritis yang mereka lihat tidak semuanya harus negatif,” katanya.
FFPK tahun ini juga diperkirakan mendapat antusiasme tinggi. Zulfydar menyebut peserta workshop telah mencapai lebih dari 100 orang. Sementara jumlah film yang masuk diperkirakan meningkat dari rata-rata 40-50 film menjadi sekitar 70 hingga 100 film.
Ia berharap festival tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi pelajar untuk menyampaikan gagasan dan menunjukkan kemampuan mereka di tingkat nasional hingga internasional.
“Kami juga akan berusaha agar sertifikasi festival ini dapat menjadi bagian dari kurasi yang diakui oleh pemerintah pusat,” pungkasnya.
