PONTIANAK INFORMASI – Titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun menjadi 28 titik. Meski demikian, Gubernur Kalbar Ria Norsan meminta masyarakat dan seluruh pihak tidak lengah karena kondisi cuaca diperkirakan semakin kering.
Hal itu disampaikan Ria Norsan saat mendampingi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau lokasi karhutla di Desa Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8/2026).
Raja Juli mengatakan berdasarkan data Sipongi, hotspot di Kalbar kini tersisa 28 titik. Rinciannya, 16 titik di Ketapang, 11 titik di Melawi, dan 1 titik di Kubu Raya.
Penurunan tersebut merupakan hasil penanganan bersama TNI, Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni, BMKG, serta Masyarakat Peduli Api. Penanganan juga diperkuat operasi pemadaman udara yang telah dilakukan sekitar 200 kali.
Meski titik panas menurun, Raja Juli mengingatkan kondisi asap masih menjadi persoalan karena kebakaran di lahan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan tanah.
“Meskipun api mulai padam, asap masih menyelimuti wilayah karena pembakaran tidak sempurna di lahan gambut,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar di tengah kondisi cuaca kering. Pemerintah, kata dia, menghargai kearifan lokal, tetapi percikan api sekecil apa pun berisiko memicu kebakaran.
Ria Norsan turut mengapresiasi kerja seluruh tim gabungan yang berhasil menekan hotspot di Kalbar. Namun, ia meminta kewaspadaan tetap ditingkatkan menghadapi puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada September.
“Meski terjadi penurunan, kami mengingatkan agar tidak lengah karena puncak El Nino diprediksi BMKG terjadi pada September,” kata Norsan.
Pemprov Kalbar memastikan koordinasi bersama Satgas Karhutla akan terus diperkuat untuk mencegah kebakaran meluas, menekan dampak kabut asap, serta melindungi masyarakat dan lingkungan.
