Foto: Dok Humas Polres Sibolga
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Kota Sibolga, Sumatera Utara, dilanda krisis pangan pasca-bencana banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025. Dalam situasi darurat ini, sejumlah minimarket seperti Indomaret dan Alfamart menjadi sasaran penjarahan oleh warga yang terdampak bencana. Aksi penjarahan terjadi di setidaknya tujuh gerai, termasuk Indomaret di Jalan Singamaraja (depan SPBU Kebun Jambu), Jalan Suprapto, dan Jalan Sibolga-Barus, serta Alfamart di Jalan Imam Bonjol, Jalan Suprapto, dan Jalan Merpati. Penjarahan juga sempat menyasar Alfamidi di Jalan Singamaraja.
Kasat Reskrim Polres Sibolga, AKP Rustam E Silaban, mengonfirmasi bahwa polisi telah mengamankan 16 orang pelaku penjarahan. “Satreskrim Polres Sibolga telah mengamankan 16 orang pelaku yang terlibat dalam aksi penjarahan di beberapa minimarket,” ujar Rustam, Minggu (30/11/2025), dilansir dari DetikSumut. Barang bukti yang diamankan polisi antara lain makanan ringan, minuman, dan kebutuhan rumah tangga yang diambil dari minimarket tersebut.
Aksi penjarahan diduga terjadi karena keterlambatan distribusi bantuan pascabencana. Pihak Indomaret mengakui bahwa akses jalan utama untuk pendistribusian paket bantuan masih tertutup oleh material bencana alam, sehingga warga kesulitan mendapatkan bantuan secara merata. “Aksi penjarahan diduga terjadi karena akses jalan utama pendistribusian paket bantuan masih tertutup material bencana alam,” kata perwakilan Indomaret.
Sejumlah warga yang tertangkap mengaku terpaksa melakukan penjarahan karena kondisi kelaparan dan tidak ada bantuan yang datang. Seorang warga korban banjir Sibolga mengaku dalam video permintaan maafnya, “Saya minta maaf karena saya juga salah satu yang menjarah Alfamart tersebut. Saya sebenarnya tidak ada niat untuk berbuat itu, cuma karena keterbatasan makanan yang kami miliki, kami juga terjebak banjir, tidak ada uang untuk membeli, tidak ada bantuan sama sekali, akhirnya saya ikut mengambil juga,” ujarnya.
Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Sumut, AKBP Siti Rohani Tampubolon, menegaskan bahwa 16 orang yang ditangkap tidak terlibat dalam penjarahan di Gudang Bulog Sarudik, Kota Sibolga. “Tidak, tidak terjadi di Bulog,” ujarnya kepada wartawan. Penjarahan di minimarket berlangsung pada Sabtu (29/11/2025), dan kebanyakan pelaku adalah korban bencana yang mengalami krisis pangan.
Pihak kepolisian terus melakukan pengamanan di lokasi-lokasi strategis agar tidak terjadi aksi serupa. Sementara itu, warga berharap bantuan segera tiba agar situasi kembali kondusif dan tidak memicu tindakan ekstrem lainnya.
Krisis ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan pusat untuk segera menyalurkan bantuan secara merata dan cepat kepada korban bencana, guna mencegah aksi serupa di masa depan.
