Screenshot
PONTIANAK INFORMASI – Antusias warga menyaksikan ritual Naga Buka Mata di Klenteng Kwan Tie Bio, Jalan Diponegoro, Minggu (1/3/26) tak cukup hanya dengan mengabadikan gambar dengan kamera ponsel dari jarak dekat. Sejumlah warga, bahkan rela berdesak-desakan berebut “jenggot” naga.
Jenggot berbahan benang wol berwarna merah tersebut diperebutkan karena dipercaya bisa mendatangkan rezeki dan kesehatan yang berlimpah dan perlindungan sepanjang tahun.
Bahkan, beberapa orang sengaja menyimpan helai jenggot naga yang didapat dan meletakkannya di dompet, rumah, atau tempat usaha sebagai jimat keberuntungan.
Tradisi ini sudah ada sejak lama, dan setiap perayaan Cap Go Meh, banyak orang rela berdesakan demi bisa menyentuh naga yang meliuk-liuk di tengah keramaian.
Seperti yang dilakukan Sinta, warga Pontianak. Ia mengaku bersama teman-temannya selalu menyempatkan diri datang setiap tahun untuk menyaksikan atraksi naga sekaligus berharap bisa mendapatkan jenggot naga.
“Jenggot naga kami percaya bisa mendatangkan keberuntungan dan mengusir roh-roh jahat yang berniat tidak baik kepada kami,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ivan. Ia juga selalu berusaha mendapatkan benang merah tersebut setiap perayaan berlangsung.
“Biasanya jenggot naga atau benang merah ini kami ikatkan di kendaraan bermotor atau digantung di pintu depan rumah,” katanya.
Ketua Panitia Cap Go Meh Pontianak, Hendry Pangestu Lim, mengatakan tradisi berebut jenggot naga bukan sekadar atraksi, tetapi memiliki makna spiritual yang kuat bagi masyarakat.
“Itu sudah biasa. Setiap tahun masyarakat ingin mendapatkan baroka. Ada sisi positifnya, mungkin keberkahan dan keselamatan,” ungkapnya.
Kepercayaan bahwa jenggot naga membawa keberuntungan dan perlindungan masih kuat hingga kini, menjadikan perayaan ini lebih dari sekadar tontonan budaya tetapi juga bagian dari spiritualitas dan harapan untuk tahun yang lebih baik.
