PONTIANAK INFORMASI – Delapan jenazah korban kecelakaan helikopter PK-CFX yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, telah tiba di RS Bhayangkara Pontianak, Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 10.30 WIB.
Saat ini, seluruh jenazah berada di ruang jenazah dan tengah menjalani pemeriksaan oleh tim medis serta forensik. Proses tersebut dilakukan untuk kepentingan identifikasi sebelum nantinya diserahkan kepada pihak keluarga.
Kapolda Kalimantan Barat, Pipit Rismanto, menyampaikan bahwa dari delapan korban, satu di antaranya merupakan warga negara asing asal Malaysia, satu orang berasal dari Kabupaten Melawi, dan sisanya diduga berasal dari luar Kalimantan Barat.
“Jadi satu WNA dari Malaysia, satu dari Kalimantan Barat asal Melawi, dan yang lainnya kemungkinan dari luar Kalimantan Barat,” ujarnya kepada awak media saat konferensi pers di RS Bhayangkara.
Pipit mengatakan, delapan jenazah berhasil dievakuasi oleh tim Satgas Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri. Tim bergerak cepat sejak menerima laporan hilangnya kontak helikopter pada Kamis (16/4/2026).
Lebih lanjut, Pipit menjelaskan kronologi peristiwa itu. Ia mengatakan helikopter jenis Airbus Helicopter B30 dengan nomor registrasi PK-CFX itu berangkat dari helipad PT Citra Mahkota (CMA) di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, pada pukul 07.34 WIB. Pesawat tersebut dijadwalkan tiba di helipad PT Graha Agro Nusantara I, Kabupaten Kubu Raya.
Namun, dalam perjalanan helikopter mengalami hilang kontak sekitar pukul 08.39 WIB. Informasi tersebut diterima pihak berwenang sekitar pukul 11.00 WIB, yang kemudian langsung ditindaklanjuti dengan operasi pencarian.
“Pada saat perjalanan helikopter tersebut mengalami loss kontak sehingga sudah diinformasikan kepada pihak-pihak yang terkait,” katanya.
Berdasarkan koordinat terakhir, helikopter berada di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Tim gabungan akhirnya berhasil menemukan lokasi jatuhnya helikopter pada pukul 18.50 WIB di hari yang sama. Seluruh penumpang dinyatakan meninggal dunia.
Pipit mengatakan proses evakuasi mengalami hambatan dan kendala srbab, lokasi kejadian berada di medan yang sulit dijangkau, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam berjalan kaki dari Desa Tapang Tingang.
“Kondisi geografis yang terjal dan keterbatasan pencahayaan membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan pada malam hari, sehingga dilanjutkan pada Jumat pagi sekitar pukul 06.00 WIB,” ujarnya.
Polda Kalbar bersama tim forensik saat ini masih melakukan identifikasi lanjutan, termasuk memastikan identitas satu korban warga negara asing melalui data sidik jari.
“atas nama pimpinan kepolisian yang melaksanakan tugas mengucapkan turut berbela Sungkawa, berduka yang mendalam kepada keluarga semua yang hadir disini,” tukasnya.
