PONTIANAK INFORMASI – Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) kini menghadapi tekanan berat setelah harga tandan buah segar (TBS) anjlok dalam beberapa pekan terakhir.
Di Kabupaten Bengkayang, harga TBS yang sebelumnya mencapai sekitar Rp3.340 per kilogram kini turun drastis hingga kisaran Rp2.330 per kilogram di tingkat petani. Penurunan tajam ini memicu keresahan karena terjadi saat biaya panen, transportasi, pupuk, dan bahan bakar minyak terus meningkat.
Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengaku prihatin atas merosotnya harga sawit yang berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
“Kita ikut prihatin ya. Karena ini juga kan anjloknya di perdagangan internasional juga, CPO-nya kan,” ujar Norsan, Rabu (3/6/26)
Meski demikian, Norsan mengaku belum dapat memastikan secara rinci faktor utama yang menyebabkan harga sawit jatuh. Namun Pemerintah Provinsi Kalbar akan berupaya mencari langkah-langkah agar harga TBS dapat kembali membaik.
“Ini mungkin saya belum bisa memberikan komentar yang sebab dan penyebabnya anjlok harga sawit ini. Namun kita berupaya semaksimal mungkin bagaimana supaya harga sawit ini bisa kembali normal,” katanya.
Menurut Norsan, jika pun harga belum bisa kembali seperti sebelumnya, setidaknya dapat mendekati level yang pernah dinikmati petani.
“Kita berupaya untuk membalikkan kepada harga semula lagi,” tuturnya.
Ia menilai, sejumlah faktor global berpotensi menjadi penyebab melemahnya harga sawit, mulai dari kondisi geopolitik hingga hambatan perdagangan internasional.
“Perang dunia ini pasti penyebab juga. Mungkin terhambatnya ekspor-impor karena pengaruh hal-hal yang lain,” ujarnya.
