PONTIANAK INFORMASI – Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Toraja Utara melakukan kunjungan studi tiru ke Kota Pontianak, Kamis (4/6).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari strategi menjaga kerukunan umat beragama dan mencegah konflik sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Pontianak dipilih karena dinilai berhasil menjaga keharmonisan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan di ibu kota Kalimantan Barat tersebut.
Dalam kunjungan yang berlangsung di Ruang Rapat Wali Kota Pontianak, Frederik mengaku terkesan dengan salah satu budaya yang menurutnya turut memperkuat hubungan sosial masyarakat, yakni budaya ngopi di warung kopi.
Menurutnya, warung kopi di Pontianak bukan sekadar tempat menikmati minuman, tetapi juga menjadi ruang publik tempat masyarakat berinteraksi dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan.
“Filosofi warung kopi itu luar biasa, ada pahit dan manisnya hidup dalam setiap gelas kopi,” kata Frederik.
Ia menuturkan, meski Toraja Utara dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi berkualitas di Indonesia, budaya berkumpul di warung kopi belum berkembang seperti di Pontianak. Masyarakat di daerahnya lebih terbiasa menikmati kopi di rumah masing-masing.
Karena itu, ia berencana mengadopsi budaya tersebut sebagai salah satu cara memperkuat interaksi sosial masyarakat di Toraja Utara.
Selain tertarik dengan budaya ngopi, Frederik juga mengapresiasi capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak yang telah berada pada kategori sangat tinggi. Menurutnya, keberhasilan pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari kondisi daerah yang aman dan harmonis.
“Tidak ada daerah yang bisa dibangun dengan baik kalau kerukunan dan keharmonisan umat beragama serta masyarakatnya tidak terjalin,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan bahwa menjaga kerukunan di kota yang heterogen seperti Pontianak membutuhkan komunikasi yang kuat antarberbagai elemen masyarakat.
Menurut Edi, konflik yang pernah terjadi di Kalimantan Barat umumnya lebih dipengaruhi sentimen kesukuan dibandingkan persoalan agama. Karena itu, pemerintah kota terus melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan berbagai organisasi dalam menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
“Kalau ada kejadian, tokoh-tokohnya kita undang, kita rembuk. Kalau berkaitan dengan hukum, kita serahkan ke aparat untuk diproses. Biasanya persoalan selesai dan tidak berkembang,” katanya.
Edi menilai budaya ngopi menjadi salah satu kekuatan sosial yang dimiliki Pontianak. Warung kopi menjadi ruang pertemuan warga dari berbagai latar belakang untuk berinteraksi tanpa sekat.
“Di sini walau di rumahnya ada kopi, tapi suasana di warung kopi, obrolannya, silaturahminya, yang membuat warung kopi selalu penuh,” ujarnya.
Selain mendorong interaksi melalui warung kopi, Pemkot Pontianak juga memperbanyak ruang terbuka hijau sebagai sarana pertemuan masyarakat. Menurut Edi, semakin banyak ruang publik yang nyaman dan inklusif, semakin besar peluang warga untuk saling mengenal dan membangun toleransi.
“Pontianak ini kita bangun dengan semangat kekeluargaan. Banyak pendatang, maka kita ingin kota ini tetap ramah, nyaman, dan terbuka,” katanya.
Meski demikian, Edi mengakui menjaga keharmonisan kota bukan perkara mudah. Berbagai persoalan perkotaan, mulai dari ketertiban umum hingga mobilitas penduduk yang tinggi, menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, organisasi adat, komunitas, dan warga dalam menjaga kerukunan.
“Yang paling penting adalah komunikasi. Kalau ada masalah, kita mediasi, kita carikan solusi. Dengan saling mengenal dan berinteraksi, warga bisa lebih toleran dan menerima perbedaan,” pungkasnya.
