Internasional News

Sri Lanka Bangkrut: Gagal Bayar Hutang hingga Darurat Nasional!

Berita Internasional, PONTIANAK INFORMASI – Setelah beberapa tahun terakhir Venezuela mengalami kemerosotan ekonomi yang sangat signifikan, kini, Sri Lanka menyusul. Dilansir dari Kompas, Krisis Sri Lanka dimulaipada akhir Maret 2022 setelah sejumlah pendemi mendatangi langsung rumah Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa.

Kini, Sri Lanka mengalami kondisi terburuknya sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948 silam. Negara berpenduduk 22 juta tersebut mengalami kekurangan makanan, bahan bakar hingga berbagai kebutuhan pokok.

Dilansir dari AFP, berikut kronologi kebangkrutan Sri Lanka.

31 Maret: Ratusan warga Sri Lanka melakukan unjuk rasa dengan menyerbu rumah pribadi Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk menuntut pengunduran dirinya.

1 April: Unjuk rasa terus menyebar dan membuat Presiden Rajapaksa mengumumkan keadaan darurat dan memberikan kekuasaan besar pada militer untuk menahan tersangka.

2 April: Militer dikerahkan demi mengamankan peraturan jam malam nasional selama 36 jam.

3 April: Sempat menutup akses ke media sosial, Dewan Hak Asasi Manusia Sri Lanka akhirnya mencabutnya. Di saat bersamaan seluruh kabinet pemerintahan Sri Lanka mengundurkan diri.

4 April: Kegiatan trading di bursa saham Sri Lanka terhenti. Gubernur bank sentral mengundurkan diri. Kabinet tidak ada yang mau bekerja sama dengan Rajapaksa.

5 April: Sempat menjabat selama satu hari, Menteri Keuangan mengundurkan diri. Presiden Rajapaksa juga telah kehilangan suara mayoritas di perlementernya.

7 April: Rajapaksa memerintahkan panel ahli untuk melakukan restrukturisasi utang.

8 April: Bank sentral mencatat mata uang Rupee Sri Lanka jatuh bebas 35 persen lebih setelah menaikkan rekor bunga mencapai 700 basis poin.

9 April: Demo terbesar yang pernah ada di Sri Lanka terjadi dengan diikuti puluhan ribu orang yang mengepung kantor presiden dan menuntut presiden mengundurkan diri.

10 April: Dokter di Sri Lanka menyatakan kehabisan obat-obatan dan menyatakan bahwa krisis bisa membunuh lebih banyak orang daripada pandemi COVID-19.

12 April: Sri Lanka resmi mengalami kegagalan dalam membayar seluruh utang luar negeri senilai USD 51 miliar atau sekitar Rp732 triliun setelah kehabisan devisa untuk mengimpor barang yang dibutuhkan.

13 April: Sri Lanka menyatakan bangkrut secara nasional dan mendesak warganya yang merantau di luar negeri untuk mengirim uang ke negara demi membantu pemenuhan kebutuhan pokok dan bahan bakar.

Sri Lanka sempat bangkit dari perang saudara hebat yang terjadi pada tahun 2009 lalu. Namun, sejumlah pemboman pada tahun 2019 membuat negara ini mengalami kemerosotan ekonomi ditambah lagi dengan pandemi COVID-19. (b)