Foto: Ilustrasi
PONTIANAK INFORMASI, Lokal – Krisis bahan bakar minyak (BBM) sedang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, dengan Kabupaten Melawi sebagai salah satu titik terparah. Sejak sepekan terakhir, pemandangan kendaraan yang mengular panjang di SPBU menjadi pemandangan harian, seperti yang terpantau di Nanga Pinoh pada Selasa (10/2/2026).
Iskandar, seorang warga setempat, mengungkapkan betapa melelahkannya perjuangan warga hanya untuk mendapatkan beberapa liter bahan bakar. Banyak warga yang nekat datang sebelum matahari terbit demi mengamankan posisi di antrean.
“Antrean kendaraan yang mau mengisi BBM semakin panjang, sampai harus menunggu berjam-jam. Banyak warga sudah antre sejak subuh, padahal SPBU belum buka,” ujar Iskandar dikutip dari Brata Post.
Kondisi ini tidak hanya membuat SPBU sering kehabisan stok, tetapi juga mematikan aktivitas kios pengecer. Dampaknya pun merembet ke urusan kantong warga. Di tingkat desa, harga Pertalite eceran dilaporkan melonjak drastis ke angka Rp20.000 hingga Rp30.000 per liter.
Selain Melawi, kabupaten tetangga seperti Sanggau, Sekadau, Sintang, hingga Kapuas Hulu juga merasakan penderitaan yang sama. Jika tidak segera ditangani, aktivitas ekonomi di pedalaman terancam lumpuh total.
Usut punya usut, biang kerok kelangkaan ini adalah fenomena alam. Musim kemarau panjang menyebabkan debit air Sungai Kapuas menyusut tajam. Akibatnya, kapal tanker yang biasanya membawa BBM dari Depot Pontianak menuju Depot Sintang tidak bisa melintas.
Sebagai langkah darurat, Pertamina melakukan upaya jalur darat mengalihkan distribusi menggunakan armada mobil tangki. Waktu tempuh yang lama dan jarak yang jauh membuat pasokan tetap tidak sebanding dengan tingginya permintaan di lapangan.
Masyarakat kini hanya bisa berharap pemerintah dan Pertamina segera menemukan solusi permanen agar distribusi kembali normal dan mereka tidak perlu lagi “berkemah” di SPBU setiap pagi.
