PONTIANAK INFORMASI – Pertunjukan Seni “Kesah Selaseh” yang digelar di Rumah Adat Melayu Kalimantan Barat, Kamis (6/8) malam, meninggalkan kesan tersendiri bagi para penonton yang hadir menyaksikan perpaduan tari, drama, dan pantun tersebut.
Taufik, salah satu penonton yang hadir, mengaku awalnya tidak menyangka pertunjukan yang ia saksikan ternyata mengangkat sebuah kisah cinta.
“Awalnya tuh pas lihat tariannya, kirain kayak main-main biasa. Rupanya ternyata itu kisah cinta,” ujarnya.
Dari seluruh rangkaian acara, ia mengaku paling berkesan pada pertunjukan tari, terutama karena melibatkan penari lintas usia, mulai dari anak-anak hingga orang yang sudah lebih tua.
“Ternyata dari segala usia tuh pada nari. Yang nggak expect nya tuh pas orang tua ikut turun, ikut nari,” katanya.
Kesan serupa disampaikan Tiwi, penonton lain yang mengaku ini merupakan pengalaman pertamanya menonton pertunjuakn seni. Ia menyebut suasana pertunjukan berhasil membawa penonton larut ke dalam ceritanya, khususnya lewat bagian pantun dan tari.
“Ternyata jatuh cinta selucu itu, segemas itu,” ujarnya, menggambarkan pesan yang ia tangkap dari tarian.
Baik Taufik maupun Tiwi juga sempat mencoba permainan tradisional lempar gelang yang disediakan sebelum pertunjukan dimulai. Taufik menilai permainan itu membuat penonton tak sekadar duduk menonton, tapi bisa melakukan aktivitas lain yang seru. Sementara Tiwi menilai kehadiran permainan tradisional itu jadi pengenalan berharga, terutama bagi anak-anak yang kini lebih akrab dengan dunia digital.

Keduanya setuju acara semacam ini penting bagi generasi muda. Tiwi menilai budaya Melayu sering kali dianggap mulai terkikis karena generasi muda kurang tertarik mempelajarinya.
Namun lewat kemasan yang menarik dan kreatif seperti “Kesah Selaseh”, menurutnya, budaya tradisional bisa terlihat jauh lebih menarik dari yang dibayangkan.
Mereka berharap acara serupa terus digelar ke depannya, agar generasi muda semakin mengenal dan melestarikan budaya Melayu.
