PONTIANAK INFORMASI – Kalimantan Barat kini menempati peringkat keempat provinsi dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terluas di Indonesia. Hingga musim kemarau tahun ini, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 2.000 hektare.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, mengatakan capaian tersebut bukanlah prestasi yang patut dibanggakan. Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya menekan laju kebakaran melalui peningkatan kesiapsiagaan dan dukungan berbagai pihak.
“Kalimantan Barat ini urutan keempat kebakaran lahan dan hutan di Indonesia. Ini bukan sesuatu yang membanggakan. Kalau juara PAD yang paling besar saya bangga, tapi kalau juara karhutla tentu saya tidak bangga,” kata Krisantus, Jumat (7/8/2026).
Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Kalbar telah menginstruksikan BPBD provinsi maupun kabupaten/kota untuk meningkatkan pengawasan di wilayah-wilayah rawan kebakaran, terutama kawasan lahan gambut yang mudah terbakar saat musim kemarau.
Menurut Krisantus, pemerintah pusat juga telah memberikan dukungan dalam penanganan karhutla di Kalbar. Kepala BNPB bahkan turun langsung meninjau kondisi di lapangan, khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya yang menjadi daerah dengan kondisi paling mengkhawatirkan.
“Pemerintah pusat juga sudah memberikan bantuan lima pesawat. Dua di antaranya kami kirim ke Ketapang berupa helikopter water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran yang hingga kini masih terjadi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan penanganan karhutla di Kalbar tidak hanya dipengaruhi cuaca kering, tetapi juga kondisi geografis. Di Kabupaten Kubu Raya, sekitar 64 persen wilayah merupakan lahan gambut, sedangkan di Kecamatan Pelang, Kabupaten Ketapang, terdapat kawasan gambut dengan kedalaman yang tinggi sehingga api sulit dipadamkan.
Selain itu, sejumlah titik kebakaran juga berada di kawasan pegunungan yang menyulitkan akses petugas di darat dan membutuhkan dukungan pemadaman melalui udara.
Krisantus menyebut Kabupaten Ketapang telah mencatat lebih dari 200 hektare lahan terbakar. Sementara secara akumulatif sejak awal musim kemarau, luas lahan yang terbakar di Kalbar diperkirakan mencapai sekitar 2.000 hektare.
“Kalau Kabupaten Ketapang sudah 200 hektare lebih yang terbakar. Dari awal kemarau sekitar 2 ribuan hektare. Kemudian Kabupaten Kubu Raya juga sudah ribuan hektare. Untuk data pastinya nanti saya minta BPBD,” katanya.
Ia berharap seluruh pemerintah daerah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau guna mencegah bertambahnya titik api, sehingga kebakaran tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak terhadap kesehatan maupun aktivitas masyarakat.
