Foto : dok. Kemenko Perekonomian
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Indonesia dan Uni Eropa resmi menyepakati Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) setelah 10 tahun proses negosiasi yang panjang dan penuh tantangan. Kesepakatan ini menandai babak baru dalam hubungan ekonomi kedua kawasan, membuka akses pasar yang lebih luas dengan penghapusan tarif perdagangan hampir 100 persen. Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyebut ini sebagai “terobosan baru” yang sangat strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dikutip dari Tempo, dalam konferensi pers bersama di Brussels, Belgia, Prabowo menyatakan, “Hampir semua tarif kami selesai, hampir semuanya nol persen. Jadi saya katakan ini terobosan baru,” yang menunjukkan komitmen kuat Indonesia untuk memperkuat hubungan dagang dengan Uni Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menegaskan peran penting Indonesia sebagai pemasok utama barang-barang vital bagi transisi digital dan hijau di Eropa, serta menyambut baik kesepakatan ini sebagai langkah membuka pasar baru dan peluang bisnis yang lebih besar.
Kesepakatan IEU-CEPA mencakup 21 bidang kerja sama, termasuk perdagangan barang dan jasa, investasi, prosedur kepabeanan, perdagangan digital, dan pertumbuhan berkelanjutan. Dengan penghapusan tarif ini, produk Indonesia seperti hasil pertanian, otomotif, dan bahan baku penting akan lebih mudah masuk ke pasar Eropa. Ursula von der Leyen menekankan bahwa pasokan dari Indonesia harus memenuhi prinsip keselamatan, sosial, dan tanggung jawab lingkungan.
Proses negosiasi yang berlangsung sejak Juli 2016 sempat menghadapi hambatan, terutama terkait kebijakan proteksionis Indonesia dan regulasi Uni Eropa terhadap minyak sawit yang menjadi ekspor utama Indonesia. Namun, kedua pihak berhasil menemukan titik temu yang memungkinkan finalisasi perjanjian ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa tidak ada ganjalan yang tersisa dan IEU-CEPA siap dirampungkan dalam waktu dekat.
Dari sisi politik, kesepakatan ini juga menjadi sinyal kuat bagi stabilitas ekonomi dan geopolitik global. Prabowo menilai kemitraan ini sebagai alternatif yang kuat di tengah ketidakpastian dunia saat ini. Sementara itu, von der Leyen mengapresiasi kepemimpinan Prabowo dan menegaskan pentingnya kemitraan jangka panjang yang dapat diprediksi antara Indonesia dan Uni Eropa.
Rencana penandatanganan resmi IEU-CEPA diperkirakan akan berlangsung pada kuartal ketiga tahun 2025. Kesepakatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan volume perdagangan bilateral tetapi juga memperkuat kerja sama strategis dalam berbagai sektor, mendukung pertumbuhan industri, penciptaan lapangan kerja, dan tujuan pembangunan berkelanjutan di kedua wilayah.
Dengan tercapainya IEU-CEPA, Indonesia dan Uni Eropa membuka babak baru dalam hubungan ekonomi yang lebih erat dan saling menguntungkan, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana negosiasi panjang dapat berujung pada kemitraan strategis yang kokoh di era global yang penuh tantangan.
