PONTIANAK INFORMASI – Kualitas udara Kota Pontianak kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pantauan IQAir pada Minggu (9/8/2026) pukul 09.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI-US) di Pontianak menyentuh angka 324, masuk kategori berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 237 mikrogram per meter kubik.
Bagi warga Pontianak, kondisi ini bukan sekadar soal jarak pandang yang terganggu. Partikel halus PM2.5 dalam asap mampu masuk hingga ke paru-paru dan memicu berbagai gangguan kesehatan. Berikut lima penyakit yang perlu diwaspadai selama kabut asap berlangsung.
1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
ISPA menjadi keluhan paling umum saat kabut asap melanda. Meski penyebab utamanya virus dan bakteri, paparan asap yang intens dapat melemahkan pertahanan saluran pernapasan sehingga tubuh lebih rentan terinfeksi. Gejalanya meliputi batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, dan demam. Bayi, balita, ibu hamil, dan lansia masuk kelompok paling rentan.
2. Asma
Partikel halus dalam asap dapat memicu kambuhnya asma, bahkan memunculkan gejala pada orang yang sebelumnya tak pernah mengalaminya. Penderita asma disarankan membawa stok obat yang cukup dan menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan selama kabut asap.
3. PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
Paparan asap dalam jangka panjang bisa memperburuk fungsi paru-paru dan memicu atau memperparah PPOK, kelompok penyakit radang paru kronis seperti bronkitis. Efeknya sering tidak langsung terasa, tapi terakumulasi seiring lamanya durasi paparan.
4. Penyakit Jantung
Asap mengandung gas berbahaya dan partikel halus seperti PM2.5 yang berukuran sangat kecil sehingga mampu masuk ke aliran darah dan juga paru-paru. Hasilnya, akan terjadi inflamasi dan penyumbatan terutama pada arteri sehingga serangan jantung pun tak dapat dihindari.
5. Iritasi Mata dan Kulit
Selain saluran pernapasan, asap karhutla juga bisa memicu iritasi pada mata seperti perih, merah, dan berair, serta iritasi kulit seperti gatal dan kemerahan. Sejumlah kajian kesehatan masyarakat di wilayah terdampak asap mencatat kasus ini turut meningkat seiring memburuknya indeks pencemaran udara.
Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan, menggunakan masker (idealnya N95) saat harus keluar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, menutup rapat ventilasi rumah saat asap pekat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika gejala memburuk.
