PONTIANAK INFORMASI – Kemarau panjang mulai berdampak pada kualitas air PDAM yang digunakan sejumlah warga di Kota Pontianak. Air yang biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kini terasa payau.
Nur Adila, warga Perum 2, mengaku air PDAM di rumahnya sempat terasa sangat asin selama sekitar lima hari terakhir. Menurut Adila, air PDAM di rumahnya hingga kini masih terasa payau, meski tingkat keasinannya mulai berkurang.
“Payau banget. Asin banget. Sekarang sih tadi pagi sudah agak mendingan, tapi kemarin sampai payau banget,” kata Adila.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh Arasy, warga Jalan Merdeka. Ia mengatakan air PDAM di rumahnya mulai terasa payau sejak sekitar dua hingga tiga minggu lalu. Air PDAM yang payau masih digunakan Arasy untuk mandi dan mencuci, meski ia merasakan adanya perubahan saat menggunakan air tersebut.
Untuk kebutuhan memasak dan minum, Arasy sudah tidak menggunakan air PDAM. Ia memilih memanfaatkan air hujan yang ditampung di tempayan.
“Kalau untuk masak atau minum sudah tidak pakai air PDAM lagi, pakai air hujan yang ditampung di tempayan,” ujar Arasy.
Menurutnya, dampak yang paling terasa adalah pada tubuh. Ia mengaku terkadang mengalami rasa gatal meski sudah mandi menggunakan air tersebut.
Kondisi air payau ini terjadi di tengah kemarau yang membuat hujan di wilayah hulu Sungai Kapuas berkurang. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, minimnya hujan membuat tekanan air dari hulu menurun sehingga air laut masuk saat pasang dan meningkatkan kadar garam air baku.
Menghadapi kondisi tersebut, Arasy berharap pihak PDAM dapat segera menangani persoalan air payau. Ia juga berharap hujan segera turun dan masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran lahan.
Di sisi lain, Edi mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih, terutama untuk kebutuhan minum, sembari menunggu hujan turun agar kadar garam air baku tidak semakin tinggi.
