PONTIANAK INFORMASI – Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kalbar. Hingga saat ini, luas lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 28.680 hektare, sehingga pencegahan dinilai menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko kebakaran yang lebih besar.
Hal itu disampaikan Norsan usai mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Peningkatan Eskalasi Karhutla yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, secara virtual dari Kantor Gubernur Kalbar, Senin (10/8).
“Yang terbakar sekitar 28 ribu hektare. Untuk penanggulangan, kami terus melakukan upaya di lapangan. Kami tetap siaga dan berupaya semaksimal mungkin memadamkan api,” kata Norsan.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kalbar juga telah mengajukan dukungan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun hingga kini penyemaian garam belum bisa dilakukan karena kondisi awan belum memungkinkan.
“TMC-nya sudah ada, cuma sekarang titik awan belum bisa ditaburi garam. Mudah-mudahan kebakaran tidak meluas seperti tahun 2019,” ujarnya.
Norsan menegaskan, Kalbar merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kerawanan karhutla yang tinggi. Karena itu, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, hingga masyarakat diminta memperkuat pencegahan, deteksi dini, dan pemadaman cepat.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar agar mematuhi Peraturan Daerah Kalbar Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pembukaan Lahan Perladangan Berbasis Kearifan Lokal.
“Kalau membakar, minimal lapor dulu kepada kepala desa. Sebelum dibakar harus dibuat sekat atau parit, dan jangan meninggalkan api sebelum benar-benar padam. Kalau aturan itu dipatuhi, kebakaran tidak akan meluas,” tegasnya.
Saat ini, sejumlah daerah yang menjadi perhatian utama dalam penanganan karhutla di Kalbar antara lain Kabupaten Kubu Raya, Ketapang, dan Mempawah, yang memiliki kawasan gambut cukup luas dan rawan terbakar saat musim kemarau.
Di sisi lain, BMKG memprediksi fenomena El Niño tahun ini berada pada kategori kuat dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus. Kondisi tersebut membuat sebagian wilayah Indonesia, termasuk Kalbar, berpotensi mengalami cuaca lebih kering sehingga risiko karhutla meningkat.
“Mari kita cegah Kalimantan Barat dari kebakaran hutan dan lahan agar udara tetap bersih untuk kesehatan masyarakat. Yang paling penting adalah mencegah agar api tidak muncul dan jika ada titik api segera ditangani. Kita tidak boleh lengah,” tutup Norsan.
