PONTIANAK INFORMASI – Di tengah sulitnya warga mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang, harga air isi ulang di sejumlah depot di Pontianak dikeluhkan ikut melonjak. Air yang biasanya dijual sekitar Rp 6.000 kini dijual hingga Rp20 ribu-Rp25 ribu per galon.
Mengetahui hal tersebut, Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak, Hendry Pangestu Lim, meminta pemerintah turun langsung mengawasi harga air isi ulang di lapangan.
Ia mengaku mendapat informasi adanya depot dan toko yang menaikkan harga di tengah kondisi warga yang sedang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Tidak boleh kita manfaatkan momen seperti ini. Itu tidak baik,” tegas Hendry, Jumat (4/9/26).
Ia meminta pemerintah mengecek langsung depot-depot air isi ulang untuk memastikan harga tidak dinaikkan secara tidak wajar.
“Pemerintah silakan turun ke lapangan, mengecek depot-depot. Apabila harga tidak disesuaikan, saya mendapat informasi ada yang menjual Rp20 ribu untuk isi ulang, sampai Rp25 ribu,” ujarnya.
Menurut Hendry, kebutuhan air bersih saat ini dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat. Bahkan, warga yang datang mendapatkan bantuan air tidak hanya berasal dari kalangan kurang mampu.
“Tidak melihat miskin atau kaya. Hari ini yang datang mengambil juga pakai mobil. Namanya kebutuhan, ini tidak lagi melihat miskin atau kaya,” katanya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk saling membantu di tengah kondisi krisis air bersih yang terjadi di Pontianak. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Kita sebagai masyarakat harus mendukung masyarakat lain, yang mampu maupun yang tidak mampu,” ucapnya.
Selain mengajak warga saling membantu, Hendry juga berharap hujan segera turun untuk mengakhiri kemarau sekaligus membantu memadamkan karhutla ang menyebabkan kabut asap di sejumlah wilayah Kalbar.
“Apalagi hari ini hari Jumat. Selesai salat Jumat, jangan pulang dulu. Kita doakan hari hujan di Pontianak ini, cepat hujan,” tuturnya.
