PONTIANAK INFORMASI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mengancam habitat satwa liar. Seekor orangutan betina dewasa bersama anaknya akhirnya dievakuasi dari Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kamis (3/9/2026).
Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).
Kedua orangutan tersebut kemudian diberi nama Mama Man dan Man. Induknya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sedangkan anaknya yang berjenis kelamin jantan diperkirakan masih berusia kurang dari satu tahun.
Keduanya sebenarnya telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026 di area perkebunan warga yang berbatasan dengan sepetak hutan.
Saat itu, keduanya masih memiliki ruang untuk bergerak di sekitar habitat yang tersisa. Namun, kondisi berubah ketika karhutla meluas dan api mulai mendekati lokasi tempat keduanya berada.
Habitat di sekitar keduanya semakin terbatas dan tidak tersedia jalur aman untuk berpindah. Ancaman kebakaran serta paparan asap membuat tim memutuskan melakukan evakuasi.
Tim tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah memastikan posisi dan kondisi keduanya, proses penyelamatan dilakukan dengan melibatkan dokter hewan YIARI.
Induk orangutan kemudian dibius untuk memudahkan proses evakuasi. Sekitar 10 menit kemudian, Mama Man berhasil dievakuasi menggunakan jaring dengan anaknya tetap berada bersamanya.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ditemukan luka fisik maupun luka bakar pada tubuh induk. Setelah proses pembiusan, induk mendapatkan dukungan oksigen sebelum dibawa bersama anaknya ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri.
Sementara itu, Man yang masih berusia kurang dari satu tahun terlihat aktif selama pemeriksaan. Tim menemukan ingus dan cairan kering di sekitar hidungnya yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla.
Dokter hewan YIARI, drh Komara, mengatakan secara umum tidak ditemukan luka akibat kebakaran pada induk maupun anak orangutan.
“Namun, paparan asap dalam jangka waktu tertentu tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi sistem pernapasan orangutan, terutama ketika konsentrasi asap di habitat sangat tinggi. Kondisi kesehatan keduanya akan terus dipantau selama berada di pusat penyelamatan dan rehabilitasi,” jelasnya.
Untuk sementara, Mama Man dan Man menjalani pemantauan kesehatan di pusat penyelamatan dan rehabilitasi YIARI. Tim juga terus memantau perkembangan karhutla di sekitar lokasi asal keduanya.
Apabila kondisi kebakaran telah lebih aman, tim akan melakukan penilaian terhadap lokasi yang sesuai untuk kemungkinan pelepasliaran kembali keduanya ke habitat yang aman.
Penyelamatan ini menambah panjang daftar orangutan yang terdampak karhutla di Ketapang. Dalam waktu kurang dari satu bulan, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI telah menyelamatkan sedikitnya sembilan orangutan dari ancaman kebakaran di sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kondisi karhutla saat ini sangat mengkhawatirkan karena api terus meluas dan mendekati habitat maupun lokasi orangutan mencari makan.
Banyak orangutan akhirnya keluar dari habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman, tetapi justru menghadapi risiko ketika memasuki perkebunan atau area yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
“Kondisinya sangat parah. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla. Ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya menghancurkan hutan, tetapi juga membuat satwa kehilangan tempat untuk berlindung dan mencari makan. Ketika habitatnya terbakar atau dikelilingi api, mereka tidak punya banyak pilihan untuk berpindah,” ujar Argitoe.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menekankan pentingnya komitmen semua pihak untuk menjaga kawasan hutan dan wilayah bernilai konservasi tinggi dari ancaman kebakaran.
“Penyelamatan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Laporan dan kepedulian masyarakat penting dalam menjaga upaya keselamatan satwa liar terdampak Karhutla,” ujarnya.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak karhutla di sekitar permukiman, kebun, atau membutuhkan pertolongan diminta segera melapor kepada Balai KSDA Kalimantan Barat melalui call center 0811-5776-767 atau 0811-5670-041 agar dapat ditangani dengan aman dan tepat.
