Hasto Kristiyanto (Foto : KOMPAS.com / IRFAN KAMIL)
PONTIANAK INFORMASI, Sports – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dalam pembelaannya (pleidoi) mengungkapkan bahwa dirinya merasa mendapat tekanan setelah mengambil sikap menolak kedatangan Timnas Israel untuk bertanding di Indonesia dalam ajang Piala Dunia U-20. Pernyataan ini disampaikan Hasto saat menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kamis (10/7/2025).
Dilansir dari Kompas.com. Hasto menjelaskan bahwa tekanan tersebut mulai muncul pasca penolakannya terhadap kehadiran kesebelasan Israel. Ia menilai tekanan itu tidak hanya berupa kritik politik, tetapi juga diikuti dengan pemberitaan yang semakin masif terkait kasus dugaan suap dan penghalangan proses penyidikan yang menjeratnya. “Tekanan terhadap saya diawali akibat sikap politik yang saya sampaikan dengan menolak kehadiran Kesebelasan Israel,” ujarnya.
Menurut Hasto, pemberitaan mengenai kasus mantan kader PDI-P, Harun Masiku, yang hingga kini masih buron, meningkat drastis setelah PDI-P menolak Timnas Israel. Data yang disampaikan Hasto menunjukkan bahwa pada April 2023 hanya ada dua berita terkait kasus tersebut, namun melonjak menjadi lebih dari dua ribu berita pada Agustus 2023. Ia menilai hal ini sebagai bagian dari tekanan yang diarahkan kepadanya dan partainya. “Pada April 2023, hanya ada 2 berita, namun pada Agustus 2023 melonjak menjadi 2.226 berita media sosial dan di media,” jelasnya.
Selain itu, Hasto juga menyebut adanya dugaan tekanan terhadap mantan Ketua KPU Hasyim Asy’ari yang berimplikasi pada fakta baru dalam kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa tekanan politik dan kriminalisasi yang dialaminya terkait dengan sikap tegas PDI-P menjaga kedaulatan rakyat dan hukum yang benar.
Hasto bahkan menulis sendiri nota pembelaan setebal 108 halaman dengan tangan hingga pegal-pegal sebagai bentuk perjuangan membela diri dan partainya dari tekanan tersebut. Meski demikian, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri disebut tidak memberikan instruksi resmi kepada kadernya untuk menolak kehadiran Timnas Israel, sehingga sikap tersebut merupakan keputusan politik yang diambil secara mandiri oleh Hasto dan partainya.
