Stadium MetLife(Foto : Foto : David Ramos/Getty Images/AFP)
PONTIANAK INFORMASI, Sports – Piala Dunia Antarklub 2025 yang digelar di Amerika Serikat sejak 15 Juni 2025 menghadapi berbagai masalah yang mengancam kelangsungan turnamen, terutama terkait minat penonton yang sangat rendah. Meski turnamen ini diharapkan menjadi ajang unjuk gigi klub-klub terbaik dunia dan persiapan AS sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, kenyataannya justru jauh dari harapan.
Salah satu isu utama yang mencuat adalah kondisi lapangan yang buruk. Pertandingan antara Palmeiras dan FC Porto di MetLife Stadium mendapat kritik tajam karena rumput yang terlalu kering sehingga mengganggu tempo permainan. Pemain Palmeiras mengeluhkan bola yang bergerak lebih lambat dari biasanya, yang membuat pertandingan kurang maksimal. Ironisnya, MetLife Stadium merupakan lokasi final Piala Dunia Antarklub tahun ini dan juga kandidat venue Piala Dunia 2026.
Selain masalah teknis lapangan, cuaca ekstrem juga menjadi kendala serius. Suhu mencapai 40 derajat Celsius saat pertandingan PSG melawan Atletico Madrid di California membuat performa pemain menurun drastis. Pelatih PSG mengungkapkan bahwa suhu panas tersebut sangat memengaruhi kualitas permainan, bahkan meski timnya menang telak, kondisi tersebut membahayakan kesehatan pemain.
Dilansir dari Bola.com, masalah paling krusial adalah rendahnya antusiasme penonton. Beberapa laga awal menunjukkan tribun yang kosong atau hanya terisi sebagian, sehingga atmosfer pertandingan terasa hambar. Penjualan tiket yang lesu memaksa FIFA menurunkan harga tiket secara drastis, namun hal ini belum mampu menarik minat penonton secara signifikan. Contohnya, pertandingan Chelsea melawan LAFC di Mercedes-Benz Stadium yang berkapasitas 70 ribu penonton hanya dihadiri sekitar 22 ribu orang. Pelatih Chelsea pun mengaku heran dengan kondisi tersebut.
Selain itu, iklim politik yang panas di Amerika Serikat juga menjadi faktor penghambat. Demonstrasi dan ketegangan sosial membuat banyak penggemar ragu untuk datang langsung ke stadion. Larangan perjalanan dari beberapa negara dan penahanan imigran menambah kekhawatiran akan keamanan dan kenyamanan selama turnamen berlangsung.
