(Foto : AFC)
PONTIANAK INFORMASI, Sports – Ketegangan di perbatasan antara Thailand dan Kamboja semakin memanas, menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, termasuk Irak, yang tengah bersiap mengikuti Piala Raja 2025. Konflik ini bermula dari sengketa wilayah yang sudah berlangsung lama di kawasan perbatasan Segitiga Zamrud, yang menghubungkan Thailand, Kamboja, dan Laos. Bentrokan bersenjata terjadi semakin sering sepanjang tahun 2025, mencapai puncaknya pada Juli, dengan korban jiwa dan ribuan pengungsi dari kedua negara.
Menurut laporan dari Tempo.co, konflik bermula sejak Februari 2025 ketika terjadi ketegangan terkait aktivitas di kawasan candi Prasat Ta Muen Thom yang disengketakan. Militer Thailand menganggap tindakan pasukan Kamboja yang menyanyikan lagu kebangsaan mereka di kawasan tersebut sebagai pelanggaran perjanjian. Bentrokan terus meningkat hingga pada 24 Juli 2025 terjadi baku tembak antara kedua militer, menyebabkan para tentara dan warga sipil menjadi korban.
Hingga kini, pertempuran di berbagai titik perbatasan masih berlangsung, dengan angka korban mencapai puluhan jiwa dan lebih dari 168.000 orang mengungsi akibat konflik berkepanjangan ini. Media CNBC Indonesia melaporkan bahwa upaya diplomasi dan mediasi masih diupayakan, termasuk keterlibatan Presiden AS Donald Trump yang mengajak kedua pihak untuk menegosiasikan gencatan senjata.
Situasi ini juga berdampak pada persiapan Irak menjelang Piala Raja 2025, turnamen sepak bola yang melibatkan negara-negara di kawasan tersebut. Kekhawatiran muncul karena kerusuhan yang terus berlanjut dapat mempengaruhi keamanan dan lancarnya partisipasi tim Irak di kompetisi regional tersebut.
Sementara itu, pemerintah kedua negara terus mengeluarkan pernyataan berbeda terkait siapa yang memulai serangan dan menyalahkan pihak lawan atas eskalasi konflik. Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menegaskan pihaknya hanya bertindak untuk mempertahankan wilayah mereka, sedangkan militer Thailand menuduh Kamboja sebagai provokator dalam bentrokan bersenjata terbaru.
Kerusakan infrastruktur dan evakuasi warga sipil menjadi konsekuensi langsung dari konflik ini. Di beberapa wilayah, rumah-rumah dan fasilitas umum rusak parah, sementara ratusan ribu warga terpaksa mengungsi untuk menghindari pertempuran yang semakin brutal.
Pemerintah negara-negara tetangga dan komunitas internasional terus mengawasi situasi dengan seksama. Indonesia bahkan menyuarakan harapan agar konflik ini dapat segera diselesaikan secara damai melalui dialog dan mediasi, demi menjaga stabilitas kawasan ASEAN secara keseluruhan.
