Presiden Suriah (Foto : aa.com.tr)
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menegaskan bahwa perlindungan atas komunitas Druze menjadi prioritas utama pemerintahnya, terutama setelah serangkaian serangan udara yang dilancarkan Israel ke Damaskus dan wilayah selatan Suriah. Pernyataan ini disampaikan menyusul eskalasi kekerasan yang terjadi di kota Sweida, wilayah dengan populasi Druze yang cukup besar, dimana bentrokan antara kelompok bersenjata Druze, suku Badui, dan pasukan pemerintah telah menewaskan ratusan orang dalam beberapa hari terakhir.
Dalam pernyataannya yang dilansir dari Tempo.co, al-Sharaa menyatakan, “Kami berkomitmen untuk mengadili siapa pun yang melanggar dan menyakiti rakyat Druze kami, karena mereka berada di bawah perlindungan dan tanggung jawab negara.” Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah telah menyerahkan pengamanan kota Sweida kepada para pemuka agama dan kelompok lokal untuk menjaga stabilitas. Pernyataan ini sekaligus menegaskan kepedulian dan tugas negara terhadap kelompok minoritas tersebut.
Serangan udara Israel yang terjadi pada Rabu, 16 Juli 2025 menargetkan beberapa gedung strategis seperti kompleks Kementerian Pertahanan dan daerah dekat Istana Presiden Suriah di Damaskus. Korban jiwa pun dilaporkan, termasuk lima personel keamanan Suriah. Israel mengklaim bahwa serangan tersebut sebagai respons atas kekerasan yang menimpa komunitas Druze di selatan Suriah, dengan Menteri Pertahanan Israel menjanjikan tindakan tegas untuk melindungi mereka.
Namun, kritik datang dari Pemerintah Suriah yang mengecam tindakan Israel sebagai upaya untuk memecah belah persatuan dan melemahkan Suriah. Al-Sharaa menegaskan bahwa serangan itu merupakan bagian dari kebijakan agresif Israel yang berusaha merusak stabilitas kawasan dan menghambat upaya pemerintah dalam mengakhiri konflik internal. Komitmen Presiden Suriah melindungi hak dan kebebasan komunitas Druze sebagai bagian fundamental dari bangsa.
Sementara itu, situasi di Sweida mulai membaik setelah adanya gencatan senjata yang difasilitasi oleh pemerintah Suriah dan pemimpin Druze setempat, Sheikh Yousef Jarbou. Pasukan pemerintah mulai menarik diri dari wilayah tersebut, memberikan ruang kepada pemuka lokal untuk menangani keamanan. Hal ini mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat yang mendorong penarikan pasukan demi meredakan ketegangan lebih lanjut.
Meski Suriah menyatakan tidak takut menghadapi kemungkinan perang, al-Sharaa memilih mengedepankan upaya diplomasi dan keselamatan rakyat sebagai jalan utama. Ia menyampaikan, “Suriah tidak takut perang. Tapi kami memilih jalan yang mendahulukan kepentingan rakyat kami,” sebagaimana dilaporkan BBC dan media lain.
