PONTIANAK INFORMASI – Dua pelajar SMK SMTI Pontianak, Indra Setyawan dan Farid Zulfahhmi, membuat sebuah inovasi bernama Prototype Smart-Barrier Lidar: Palang Pintu Perlintasan Sebidang Otomatis sebagai Standarisasi Keselamatan Jalur Kereta Api Masa Depan di Kalimantan.
Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama dalam Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tingkat Kota Pontianak Tahun 2026 yang digelar pada Senin (18/5).
Usai menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Pontianak, Indra menjelaskan awal mula ia dan rekannya mengikuti lomba tersebut.
“Awalnya kami ditunjuk oleh guru untuk ikut lomba. Lalu kami mencari ide yang sesuai dengan tema keselamatan dan akhirnya muncul gagasan membuat sistem keselamatan untuk perlintasan kereta api,” ujar Indra, Senin (22/6/26).
Ia menjelaskan, sistem Smart-Barrier Lidar bekerja menggunakan tiga sensor yang dipasang di sepanjang jalur rel kereta api. Sensor pertama ditempatkan pada jarak dua kilometer, sensor kedua pada jarak satu kilometer, dan sensor ketiga berada tepat di area palang pintu perlintasan.
Ketika kereta memasuki area sensor kedua, sistem akan mendeteksi keberadaan kereta pada jarak 1.000 meter. Jika terdapat kendaraan atau orang yang terjebak di area perlintasan, sistem akan membuka kembali palang pintu dan mengirimkan peringatan kepada masinis.
“Jadi kalau ada kendaraan atau orang yang masih berada di area perlintasan, sistem akan mendeteksinya, palang pintu akan terbuka, dan notifikasi peringatan akan muncul untuk masinis,” jelasnya.
Menurut Indra, ide tersebut lahir dari hasil riset yang mereka lakukan, termasuk menyoroti sejumlah kasus kecelakaan di perlintasan kereta api, salah satunya yang terjadi di Bekasi Timur.
Ia berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan, terutama pada sisi sensor dan teknologi pendukungnya apabila nantinya diterapkan pada jalur kereta api di Kalimantan.
“Untuk ke depannya tentu masih perlu pengembangan lebih lanjut, terutama pada bagian sensornya agar semakin akurat,” katanya.
Indra menambahkan, proses pembuatan prototipe tersebut memakan waktu sekitar dua minggu dan telah melalui tahap uji coba sebelum dipresentasikan dalam ajang perlombaan.
