PIFA, Lokal – Sejumlah warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengeluhkan kesulitan mendapatkan gas melon atau elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram Salah satu keluhan diungkapkan oleh Supri (61), warga Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Barat.
Ia mengaku kerap kesulitan membeli gas di pangkalan terdekat rumahnya dan terpaksa mengantri di pangkalan resmi Pertamina tepatnya di SPBU Jalan Martadinata, Selasa (9/9/2025).
“Pangkalan di depan gang saya ngga dapat (gas). Pangkalan ini sebenarnya nggak langka, cuman penjual itu ngga benar. Gas nggak mungkin langka,”
Ia menyebutkan pangkalan gas dekat rumahnya menerima pasokan hingga 300 tabung per minggu. Namun, ketersediaan tersebut tidak dirasakan warga sekitar.
“Pangkalan dekat rumah saya tu katakanlah dapat stok (gas) 300 tabung dalam seminggu, masa tidak bisa melayani 100 orang? Kan tidak mungkin. Penjualnya nakal, harga yang mereka jual pun berbeda dengan pangkalan resmi,” ujarnya.
Supri menyebut harga di pangkalan resmi hanya Rp18.500 per tabung, sementara di eceran dekat rumahnya bisa mencapai Rp19.000 hingga Rp25.000. Ia juga menilai penyaluran gas 3 kg tidak merata karena banyak pangkalan justru melayani pembeli dari luar wilayah.
“Harapan saya ke depan, penjualan harus sesuai aturan, satu KTP satu tabung, supaya adil untuk warga sekitar,” tambahnya.
Sementara itu, Vale, salah satu pengantar gas LPG 3 kg dari agen resmi di Pontianak, mengatakan pihaknya hanya mengantarkan pasokan ke pangkalan. Mekanisme distribusi ke warga selanjutnya diatur sesuai kebijakan Pertamina.
“Kalau di sini khusus untuk warga setempat. Syaratnya jelas, satu orang satu tabung dengan menunjukkan KTP. Itu aturan dari Pertamina, supaya pembagian lebih merata,” jelas Vale.
Ia menambahkan, ketersediaan gas memang mengalami pasang surut. Pada momen tertentu, permintaan meningkat sehingga masyarakat sulit mendapatkan tabung.
“Kalau langka itu sudah biasa, seperti ada musimnya. Saat orang ramai beli, jadi terasa sulit. Tapi gas tetap ada di pangkalan, hanya dibatasi agar semua kebagian,” ujarnya.
Vale menyebut pasokan yang diantarkan ke pangkalan berdasarkan DO (delivery order) dari Pertamina yang jumlahnya terbatas. “Dalam sebulan rata-rata hanya 18 kali pengantaran. Jadi memang ada hari-hari kosong, bukan setiap hari,” katanya.
