Foto: Prokopim Kubu Raya
PONTIANAK INFORMASI, Lokal – Bupati Kubu Raya, Sujiwo, mengonfirmasi bahwa peresmian dua ikon baru daerah, Bundaran Gaforaya dan Tugu Mangrove, tetap akan dilaksanakan sesuai rencana pada malam pergantian tahun. Ketetapan ini diambil setelah dilakukan rapat koordinasi bersama Wakapolres, jajaran perangkat daerah, serta para pelaku usaha pada Jumat (19/12/2025).
Meski proses pembangunan belum tuntas sepenuhnya, Sujiwo menyatakan bahwa keputusan untuk tetap meresmikan proyek ini didasari oleh besarnya harapan masyarakat.
“Publik menginginkan, dan banyak yang penasaran dengan tampilan Tugu Mangrove maupun Bundaran Gaforaya tersebut. Sebagian besar masyarakat juga meminta agar peresmian dilakukan pada malam tahun baru,” ujar Sujiwo.
Sujiwo memprediksi bahwa saat peresmian nanti, kondisi fisik bangunan baru akan mencapai angka 90 persen. Ia pun secara terbuka meminta pengertian masyarakat jika masih terdapat detail teknis yang belum maksimal di lokasi.
“Pencahayaan, pengecatan, taman, maupun finishing mungkin belum sempurna. Namun karena keinginan publik cukup kuat, maka bersama Forkopimda khususnya Polres dan jajaran, kami sepakat untuk tetap melaksanakan peresmian,” jelasnya.
Menyadari potensi keramaian yang luar biasa, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya telah menyusun strategi pengelolaan parkir. Sejumlah perusahaan besar seperti Astra, Chery, dan Mall GAIA telah sepakat untuk memberikan dukungan berupa peminjaman lahan parkir bagi pengunjung.
“Pihak Astra, Chery, dan GAIA bersedia meminjamkan lahannya. Di GAIA saja bisa menampung lebih dari 2.000 mobil dan sekitar 5.000 sepeda motor. Jika terkoordinir dengan baik, insyaallah parkir aman,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sujiwo juga memaparkan alasan di balik pemilihan bentuk pohon mangrove sebagai pusat dari Bundaran Gaforaya. Karakteristik mangrove dianggap sangat mewakili identitas geografis Kubu Raya yang didominasi wilayah pesisir.
“Mangrove adalah ciri khas Kabupaten Kubu Raya. Ia tumbuh subur di bibir-bibir laut, menjadi pelindung alami, menyerap karbon cukup tinggi, dan menahan abrasi,” paparnya.
Lebih dari sekadar hiasan kota, tugu ini diharapkan menjadi pengingat bagi warga akan pentingnya menjaga ekosistem alam yang menjadi benteng pertahanan daerah.
“Selain sebagai simbol daerah, ini adalah pengingat bagi kita semua untuk menjaga spesies mangrove. Karena itulah dinamakan Tugu Mangrove,” pungkas Sujiwo.
