Foto: Antara
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Puluhan ribu warga Kamboja turun ke jalan di ibukota Phnom Penh, Kamis (18/12/2025), dalam aksi damai yang menuntut penghormatan terhadap perjanjian gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand. Demonstrasi besar ini terjadi di tengah memanasnya kembali konflik perbatasan yang telah menewaskan sedikitnya 55 orang dari kedua belah pihak sejak 7 Desember lalu.
Aksi damai ini diselenggarakan oleh Persatuan Federasi Pemuda Kamboja (UYFC) dengan tujuan menunjukkan komitmen negara terhadap perdamaian serta mendesak kedua pihak menghormati gencatan senjata dan perjanjian damai. Seperti dilaporkan Agence Kampuchea Presse, para peserta menyerukan agar konflik perbatasan tidak kembali memanas dan menuntut penyelesaian damai atas sengketa yang berlangsung.
Dalam aksi tersebut, massa membawa bendera nasional dan menyerukan agar kedua negara mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati di Malaysia pada Juli lalu. “Kami menuntut agar gencatan senjata dan perjanjian damai antara Kamboja dan Thailand dihormati sepenuhnya,” demikian pernyataan resmi UYFC yang dilansir Agence Kampuchea Presse.
Ketegangan antara Kamboja dan Thailand meningkat setelah insiden baku tembak di wilayah perbatasan, yang dikenal sebagai ‘Segitiga Zamrud’, pada 28 Mei 2025. Dalam insiden tersebut, tewas beberapa prajurit dari kedua belah pihak. Pemerintah Kamboja telah mengajukan permohonan ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan sengketa di empat lokasi, termasuk tempat insiden terbaru di candi kuno. Perdana Menteri Hun Manet menegaskan, “Mengajukan ke IC adalah pilihan terbaik menjaga keamanan dan kerja sama yang baik dengan Thailand,” menekankan pentingnya menjaga perdamaian.
Kementerian Pertahanan Kamboja juga menegaskan bahwa mereka tidak pernah memindahkan senjata berat ke sepanjang perbatasan dan menghormati kesepakatan gencatan senjata. “Tentara Thailand Area 1 aktif menyebarkan berita palsu yang jauh dari fakta, dengan mempublikasikan bahwa Kamboja memindahkan senjata berat di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja,” demikian rilis resmi Kemenhan Kamboja yang dilansir CNN Indonesia.
Thailand dan Kamboja telah resmi memperpanjang pakta gencatan senjata setelah konflik berdarah di wilayah perbatasan. Kesepakatan ini diteken dalam pertemuan pejabat pertahanan kedua negara di Kuala Lumpur pada 7 Agustus 2025, dengan tujuan menghentikan pertumpahan darah dan penderitaan bagi rakyat di kedua negara.
Demonstrasi warga Kamboja ini menjadi simbol kuat bahwa rakyat mendambakan perdamaian dan menolak kekerasan. Dengan dukungan luas dari berbagai kelompok masyarakat, harapan agar gencatan senjata dihormati dan konflik segera berakhir terus menguat di tengah situasi yang masih rentan ketegangan.
