Foto: Kumparan
PONTIANAK INFORMASI, Jakarta – Suporter Afghanistan memadati Jakarta International Velodrome jelang laga terakhir timnas futsal mereka melawan Iran pada penyelenggaraan Piala Asia Futsal 2026. Ribuan pendukung yang sebagian besar merupakan pengungsi asal Afghanistan terlihat memenuhi tribun dengan bendera, atribut, dan yel‑yel khas, menciptakan atmosfer yang memanas namun tetap terkendali di sekitar arena di Jakarta Timur.
Dilansir dari unggahan video yang beredar di platform media sosial, suasana di Velodrome terlihat sangat meriah saat timnas futsal Afghanistan tampil menghadapi Iran. Salah satu rekaman menyebut bahwa “Suporter Afghanistan padati Jakarta International Velodrome jelang melawan Iran pada laga terakhir Piala Asia Futsal,” menegaskan kehadiran massa yang besar dan antusiasme tinggi dari komunitas diaspora Afghanistan di Indonesia.
Menurut diskusi di forum Reddit r/indonesia, banyak suporter Afghanistan yang hadir di Velodrome adalah pengungsi yang telah lama menetap di Indonesia. “Para pendukung Afghanistan mengakui bahwa banyak dari mereka yang hadir di International Velodrome adalah pengungsi yang telah lama menetap di Indonesia”. Bagi mereka, laga ini bukan sekadar pertandingan, melainkan momen emosional untuk merasakan kembali kerinduan akan tanah air melalui dukungan langsung terhadap timnas.
Jakarta International Velodrome sendiri dipersiapkan sebagai salah satu venue utama Piala Asia Futsal 2026, bersama Indonesia Arena, dengan kapasitas sekitar 8.500 penonton dan standar internasional yang telah disesuaikan dengan regulasi AFC. Arena yang awalnya dibangun untuk Asian Games 2018 ini kini kembali menjadi pusat keramaian olahraga, kali ini dengan sentuhan berbeda dari komunitas suporter asing yang menempelkan identitas nasional mereka di tengah keragaman penonton.
Ramainya suporter Afghanistan di Velodrome juga menunjukkan bahwa ajang Piala Asia Futsal 2026 tidak hanya menjadi panggung pertandingan, tetapi juga ruang sosial bagi komunitas diaspora untuk berkumpul dan menunjukkan solidaritas. Antusiasme mereka, meski berasal dari latar belakang pengungsi, justru menambah warna tersendiri bagi atmosfer sepak bola dalam ruangan di ibu kota, sekaligus menegaskan peran olahraga sebagai sarana penyatuan identitas lintas negara.
